Islam itu Indah

Islam itu Indah

Agama Islam adalah agama yang penuh cinta dan kasih sayang, agama yang dapat menyudahi kegelapan, dan memulai kehidupan baru yang lebih menjanjikan dan terang benderang. Agama yang sempurna, dan relevan di setiap zaman hingga akhir dunia. Ketika setiap orang mengerti bahwa Islam itu indah, maka setiap detik dalam kehidupannya, tidak akan luput dalam benaknya untuk mengingat Allah. Mengingat Dzat Yang Menyandang Nama Allah.

Sejarah peradaban Islam yang sudah tercatat pada sejarah dunia, menunjukkan bahwa Islam pernah mengalami masa kejayaan, masa di mana dapat mengubah hidup manusia yang terbelakang, menjadi kehidupan yang penuh dengan ilmu pengetahuan dan perkembangan.

Daulah Islam Andalusia, Kerajaan Turki Utsmani, dan Kerajaan Mughal di India, adalah contoh dari peradaban Islam yang pernah berjaya, mereka menyebarkan pengaruhnya ke berbagai aspek kehidupan. Ajaran Islam yang mereka sebar luaskan ini tidak hanya membimbing hubungan antara manusia dengan Tuhan, melainkan juga hubungan manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam.

Sebagaimana firman Allah dalam Surat an-Nahl ayat 89, yang artinya “Dan Kami turunkan kepadamu kitab ini (al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang – orang yang berserah diri”. Selain itu, juga dapat dilihat pada Surat Yunus ayat 57, al-Baqarah ayat 185, al-Maidah ayat 6, al-Hajj ayat 78, dan ayat – ayat lain yang semakna.

Islam itu Indah

Dalam al-Quran, telah jelas disebutkan tata krama yang harus dipegang sungguh – sungguh, ketika berhadapan dengan Tuhan, manusia, maupun alam. Berbuat kerusakan, bukanlah hal yang diinginkan Islam, dan tentu akan dimurkai-Nya. Allah sendirilah yang menugaskan kepada manusia, untuk menjadi khalifah di bumi, memakmurkan bumi, dan beribadah kepada Allah, sebagaimana yang disebut dalam Surat Huud ayat 61 dan Surat Adz-Zariyat ayat 56.

Semua aspek kehidupan manusia, seperti yang telah disebutkan, sudah diatur. Mulai dari bangun tidur, hingga kembali tidur. Mulai dari menginjakkan kaki keluar rumah, hingga pulang kembali. Selain menjalankan amalan wajib, Anda juga dapat melakukan ibadah sunah sehari – hari.

Setidaknya, ada tiga keuntungan ketika menyeimbangkan ibadah wajib dengan sunah, di antaranya:

1. Meraih cinta Allah.

Ibnul Qayyim pernah mengatakan bahwa Allah akan mencintai hamba – hamba-Nya jika mereka mengikuti Rasulullah Saw. secara lahir maupun batin, membenarnya berita apapun yang dibawanya, menaati perintah, menerima dakwah, memuliakan Rasulullah Saw. karena rasa patuh, menaati hukumnya, tidak mencintai dan menaati makhluk lain karena cinta dan taat terhadapnya,

2. Akan merasa bersama Allah.

Setelah hamba meraih cinta-Nya, maka ia akan selalu meraih kebersamaan-Nya, karena semua yang dilakukan hanya untuk mencari ridho-Nya.

3. Doa – doanya dikabulkan.

Ketika seorang hamba telah mendapat cinta dan kebersamaan-Nya, maka Allah akan senantiasa memberi taufik dan hidayah, serta mengabulkan doa – doanya.

Islam itu indah, ketika seorang hamba ikhlas menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi apa – apa yang dimurkai-Nya, Islam itu akan mudah baginya, sama sekali tidak ada hal yang memberatkan. Contohnya adalah seperti yang dikisahkan oleh Ibnul Qayyim tentang gurunya, Ibnu Taimiyah, dalam buku Al Waabilush Shoyyib.

Ibnu Taimiyah justru terlihat semakin menikmati Islam ketika beliau tengah mendapat siksaan berat dan cemooh dari musuh – musuh, lantaran mendakwahkan akidah ahlus sunnah wal jama’ah. Dengan adanya keimanan dan ketaatan, hakikinya hidup tenang dan bahagia, akan dapat dirasakan.

Hikmah dari mendapatkan ujian ataupun cobaan justru akan memberikan kebaikan dan manfaat untuk meningkatkan kadar keimanan dan sarana mendekatkan diri kepada Allah. Selain itu, cobaan akan menghapus dan membersihkan dosa – dosa hamba-Nya.

Dengan kalimat islam itu indah yang sering diucapkan para pendakwah beserta bukti – bukti keindahan dan cara mendapatkannya, masih banyak yang merasa berat untuk melakukan ibadah – ibadah wajib, terlebih lagi ibadah sunah, seperti sholat malam, dhuha, atau amalan – amalan yang lain.

Jika masih belum dapat merasakan indahnya Islam, yang perlu diperbaiki bukanlah ibadah – ibadah itu, atau jangan menyalahkan bahwa ibadah – ibadah itu tidak seindah yang pernah dikatakan, justru yang perlu diperbaiki dan dilihat kembali, adalah hati dan keimanan. Bisa jadi kotoran menumpuk di situ.

Ibaratkan dengan perbedaan orang sehat yang makan makanan paling enak, dan orang sakit yang diberi makanan yang sama enaknya. Orang sakit itu pasti tidak akan selahap orang yang sehat, atau bahkan tidak akan habis. Begitulah cara memandangnya untuk dapat merasakan dan membuktikan bahwa Islam itu indah. Dibutuhkan iman dan hati yang sehat untuk menikmatinya.

Berusaha menyembuhkan dan menghilangkan penyakit, dengan al-Quran, itulah yang dapat dilakukan, karena al-Quran adalah obat dan penyembuh, berdasarkan Surat al-Israa’ ayat 82 dan Yunus ayat 5. Artinya, untuk mengobati hati adalah dengan menjalani petunjuk dan arahan yang ada tertulis dalam al-Quran dan sunah Rasulullah Saw.

Ibnul Qayyim, dengan tetap berpegang pada al-Quran dan hadits, menyebutkan tiga cara untuk menyembuhkan hati, yaitu:

1. Hifzhul Quwwah, atau memelihara kekuatan dan kondisi hati.

Cara ini dapat dilakukan dengan sering ibadah dan beramal shaleh, seperti berdzikir, membaca al-Quran dan meresapi maknanya, serta belajar ilmu agama.

2. Al Himyatu ‘Anil Mu’dzi, yaitu menghindarkan hati dari penyakit lain.

Dapat dilakukan dengan cara menjauhi perbuatan dosa, maksiat, dan perbuatan menyimpang lain.

3. Istifragul Mawaaddil Faasidah,

yaitu membersihkan noda – noda di hati akibat perbuatan yang lalu. Dapat dilakukan dengan cara beristighfar dan bertaubat dengan sungguh – sungguh.

Biasanya, akan terasa berat di awal usaha, namun hal ini adalah proses untuk menguji kesungguhan dan kesabaran. Setelah semua itu terlewati, Insyaa Allaah, Allah akan memberi taufik dan hidayah-Nya untuk hamba – hamba-Nya yang berusaha.

Besar kecilnya hidayah yang Allah berikan, tergantung dari sejauh mana seorang hamba bisa bersabar dan bersungguh – sungguh dalam mencari ridho di jalan-Nya. Hal ini sesuai dengan komentar Imam Ibnu Qayyim Al Jauziiyyah atas Surat al-‘Ankabuut ayat 69, “(Dalam ayat ini) Allah menggandengkan hidayah (dari-Nya) dengan perjuangan dan kesungguhan (manusia), maka orang yang paling sempurna (mendapatkan) hidayah dari Allah adalah orang yang paling besar perjuangan dan kesungguhannya”.

Hadits shahih Imam Muslim dan lainnya, dari Abu Huraira, Rasulullah bersabda, “Dunia ini adalah penjara (bagi) orang yang beriman dan surga (bagi) orang kafir”.

Inti tafsir hadits tersebut oleh Ibnul Qayyim adalah sebahagia apapun orang beriman di dunia, tetap akan menjadi penjara baginya, jika dibandingkan dengan besarnya balasan berupa kebaikan dan kenikmatan yang akan diterima di akhirat. Dan sesengsara apapun orang kafir di dunia, akan menjadi surga dibanding dengan balasan berupa kepedihan yang akan diterima di akhirat nanti.

Tafsir di atas juga pernah terjadi pada ulama ahli hadits, Al Hafiz Ibnu Hajar Al ‘Asqalaani, dengan seorang Yahudi yang kondisinya memprihatinkan. Singkat cerita, seorang Yahudi ini akhirnya memutuskan untuk menganut agama Islam.

Leave a Comment