Wahyoeni ✓ Seorang Muslimah yang gemar ✓ Menulis dan ✓ Kuliner. Senang mencoba dan berbagi suatu pengalaman baru ❤.

Penyebab Runtuhnya Bani Umayyah

Dinasti Bani Umayyah adalah salah satu dinasti kekhilafahan terbesar yang pernah ada dalam sejarah Islam. Sayangnya, kebesaran dinasti harus berhenti disebabkan banyaknya faktor penyebab runtuhnya Bani Umayyah. Sistem politik dan kekuasaan yang melemah merupakan titik awal kejatuhan Umayyah.

Ketika membicarakan faktor kemunduran Dinasti Bani Umayyah, banyak orang yang berfokus hanya kepada kudeta Bani Abbassiyah. Padahal, banyak faktor pendahulu yang menimbulkan kemunduran kekhilafahan bahkan yang mendorong terjadinya pemberontakan di dalam internal negara.

Sejarah Terbentuknya dan Keberlangsungan Bani Umayyah

Dinasti Bani Umayyah diawali dari pemerintahan di masa Muawiyah bin Abu Sufyan radiallahu anhu, salah seorang sahabat dekat Rasulullah shallallahu alaihi wa salam. Sebelum Muawiyah bin Abu Sufyan memegang tampuk kepemimpinan, terjadi ketidakstabilan dalam Daulah Islam.

Ketidakstabilan masih terkait erat dengan kasus terbunuhnya Khulafaur Rasyidin ketiga yakni Usman bin Affan. Namun, ketidakstabilan berhasil dipadamkan setelah Muawiyah bin Abu Sufyan menjadi khalifah. Selama beberapa waktu negara pun berada dalam masa yang tenang dan damai.

Sebelum Muawiyah bin Abu Sufyan meninggal, ia mengangkat putranya sendiri yakni Yazid bin Muawiyah sebagai khalifah selanjutnya. Sejak saat itulah tampuk kekuasaan terus dipegang orang dari Bani Umayyah.

Meski keberadaan Bani Umayyah telah berjasa besar terhadap perkembangan Islam ke berbagai penjuru dunia dan kemajuan ekonomi negara, namun berbagai kondisi yang cukup kompleks saat itu menjadi faktor penyebab runtuhnya Bani Umayyah dan berdirinya Dinasti Bani Abbasiyah.

Penyebab Runtuhnya Bani Umayyah

6 Faktor Penyebab Runtuhnya Bani Umayyah

1. Kehidupan Bermewah-Mewah Khalifah

Pemimpin yang cinta dunia adalah permulaan dari kehancuran suatu peradaban besar, begitu pula yang terjadi dengan Kekhalifahan dari Dinasti Bani Abbasiyah. Meski tidak semua khalifah Dinasti Bani Abbasiyah mempunyai sikap bermewah-mewah, namun beberapa khalifah memiliki kebiasaan buruk ini.

Bahkan, kebiasaan suka bermewah-mewah ini sudah dilakukan oleh Khalifah Dinasti Bani Abbasiyah kedua yakni Yazid bin Muawiyah (Yazid I). Yazid bin Muawiyah diketahui sangat senang minum-minuman keras sambil bernyanyi bersama budak wanita.

Hal tersebut memunculkan gejolak di masyarakat dan menimbulkan pemberontakan. Meski begitu, anaknya yakni Muawiyah II mempunyai sikap yang sederhana. Namun, Yazid II yakni Yazid bin Abdul Malik juga mempunyai sifat cinta dunia dan senang bermewah-mewah dengan para budak wanita.

Kebiasaan buruk para khalifah di Dinasti Bani Abbasiyah memantik kemarahan masyarakat hingga menimbulkan ketidakstabilan politik dan pemberontakan.

2. Terjadinya Perang Saudara di Keluarga Istana

Perang saudara untuk memperebutkan kekuasaan sangat mewarnai kehidupan perpolitikan di akhir masa kejayaan Dinasti Bani Umayyah. Masing-masing anggota istana terpecah belah terkait siapa yang paling berhak untuk menduduki posisi Khalifah selanjutnya.

Perpecahan ini timbul karena dilakukannya pengangkatan lebih dari satu putra mahkota oleh khalifah yang sebelumnya. Pengangkatan lebih dari satu putra mahkota ini memang menjadi kebiasaan sebagian besar khalifah Dinasti Bani Umayyah.

Umumnya, wasiat diberikan kepada kerabat terdekat terlebih dahulu atau putra yang paling tua. Jika putra tertua masih berusia terlalu muda, maka wasiat pertama akan jatuh ke saudara baru kemudian ke putra tertua.

Akibat praktek ini menyebabkan putra mahkota yang terlebih dahulu naik takhta akan berkeinginan untuk mengangkat putranya sendiri. Hal tersebut menyebabkan terjadinya perang saudara antara paman dan keponakan, atau antar saudara kandung di keluarga Dinasti Bani Umayyah.

3. Kudeta di dalam Lingkungan Istana

Masih terkait dengan faktor kelemahan Dinasti Bani Umayyah sebelumnya, perang saudara yang terjadi di keluarga istana bahkan berujung pada upaya kudeta pemerintahan yang sah. Kudeta terhadap Khalifah yang sah di tahun 740an misalnya merupakan salah satu kudeta terparah di dalam lingkungan istana.

Di tahun 740an sendiri, kondisi perpolitikan di dalam Dinasti Bani Umayyah sudah sangat rusak dan mengalami krisis serius. Krisis politik dimulai sejak berkuasanya Khalifah Walid II bin Yazid yang mempunyai sifat sangat buruk karena senang berfoya-foya dan cinta dunia.

Sifat Khalifah Walid II bin Yazid yang senang berfoya-foya membuatnya ditumbangkan oleh sepupunya sendiri yakni Yazid III bin Walid. Sayangnya, kepemimpinan Khalifah Yazid III bin Walid tidak berlangsung lama karena beliau jatuh sakit dan meninggal.

Setelah Khalifah Yazid III bin Walid wafat, tampuk kepemimpinan pun dipegang oleh saudara Yazid III yakni Khalifah Ibrahim bin Walid. Namun, kerabat istana yakni Marwan II bin Muhammad kemudian melakukan kudeta dan menumbangkan Khalifah Ibrahim bin Walid.

Terjadinya kudeta yang dilakukan oleh internal Dinasti Bani Umayyah ini menyebabkan Kekhalifahan saat itu kehilangan wibawa di mata rakyat. Hal ini pun memunculkan kudeta atau pemberontakan di provinsi lainnya.

4. Pertentangan Kelompok Arab Utara dan Selatan

Ketidaktentraman kondisi politik di masa Dinasti Bani Umayyah juga terjadi di kalangan masyarakat. Pertentangan paling besar terjadi antara kelompok Yaman yakni suku-suku Arab yang ada di sisi selatan Jazirah Arab dengan kelompok Qays yakni suku Arab yang ada di sisi Utara Jazirah Arab seperti Syria.

Kedua kelompok ini yakni kelompok Qays dan kelompok Yaman mempunyai kandidat khalifah masing-masing dan mendukung mereka untuk berkuasa. Hal inilah yang menimbulkan perang saudara di dalam kehidupan masyarakat Dinasti Bani Umayyah.

5. Perlakuan Tidak Adil Terhadap Kaum Mawali

Di masa pemerintahan Dinasti Bani Umayyah dikenal istilah kaum Mawali, kaum Mawali adalah kaum yang terdiri dari orang non Arab yang baru saja masuk Islam. Meski kaum Mawali adalah orang yang sudah masuk Islam, namun mereka tidak diperlakukan sebagaimana seharusnya seorang muslim.

Kaum Mawali tetap diwajibkan membayar jizyah dan tidak dipercaya untuk memegang jabatan yang tinggi. Secara strata sosial kaum Mawali juga dipandang rendah. Kekecewaan kaum Mawali membuat mereka sangat mendukung kudeta yang dilakukan Bani Abassiyah.

6. Terjadinya Kudeta dari Bani Abbassiyah

Kudeta Bani Abbassiyah bisa dibilang adalah poin pamungkas dari penyebab runtuhnya Bani Umayyah setelah berbagai faktor sebelumnya terus menggerogoti kestabilan pemerintahan Bani Umayyah. Pemberontakan dari Bani Abbassiyah diawali oleh Abu Abbas al Shafah, pemimpin Bani Abbassiyah.

Abu Abbas al Shafah sendiri adalah saudara dari Abu Muslim al Khurasani yang merupakan panglima perang keturunan Iran serta Abu Jafar al Mansur. Kudeta ini berlangsung di sungai Zab dan pasukan Bani Abbassiyah berhasil memukul mundur pasukan Bani Umayyah di tanggal 16 Januari 750 M.

Kekalahan Bani Umayyah di pertempuran sungai Zab menandai kejatuhan dari Bani Umayyah ini di jazirah Arab dan naiknya tampuk kekhalifahan di tangan Bani Abbassiyah. Khalifah Abu Abbas al Shafah naik menjadi khalifah pertama kemudian digantikan oleh Abu Jafar al Mansur pasca meninggalnya al Shafah.

Semenjak naiknya Bani Abbassiyah di tampuk kekhalifahan, ibukota negara pun dipindah ke kota Baghdad. Berbagai faktor yang sangat kompleks di atas menjadi penyebab runtuhnya Bani Umayyah hingga digantikan oleh Bani Abbassiyah. Tidak adanya pemimpin kuat dan shaleh yang mampu menyatukan masyarakat menjadi penyebab dari mundurnya kekuatan Bani Umayyah.

Wahyoeni ✓ Seorang Muslimah yang gemar ✓ Menulis dan ✓ Kuliner. Senang mencoba dan berbagi suatu pengalaman baru ❤.