Wahyoeni ✓ Seorang Muslimah yang gemar ✓ Menulis dan ✓ Kuliner. Senang mencoba dan berbagi suatu pengalaman baru ❤.

Runtuhnya Kerajaan Mataram Islam

Penyebaran Islam secara masif di tanah Jawa mulai terjadi ketika berdirinya beberapa kerajaan yang berbasis agama Islam, salah satunya Kerajaan Mataram Islam. Selama hampir kurang lebih 2 abad berdiri, ada berbagai peristiwa terjadi yang menyebabkan runtuhnya Kerajaan Mataram Islam.

Secara umum, mundurnya Kerajaan Mataram Islam disebabkan oleh campur tangannya pihak ketiga di dalam internal kerajaan, dalam hal ini adalah VOC Belanda. Keberpihakan kepada penjajah dan mengabaikan nilai agama dan adat istiadat menjadi kunci utama dari kehancuran kerajaan ini.

Awal Berdirinya Kerajaan Mataram Islam

Kerajaan Mataram Islam mulai terbentuk di abad ke 16, atau lebih tepatnya di tahun 1582 setelah Ki Ageng Pemanahan memperoleh imbalan berupa Hutan Mentaok dari Sultan Adiwijaya, karena membantu menumpas pemberontakan Aria Penangsang.

Anak Ki Ageng Pemanahan yakni Sutawijaya yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Pajang ingin membebaskan diri dari Kerajaan Pajang dan melakukan perlawanan. Hal ini mengakibatkan Sultan Adiwijaya terbunuh di peperangan.

Baca juga Peninggalan Sejarah Islam

Kerajaan Mataram Islam adalah kerajaan yang lebih menitik beratkan pada kegiatan agraris. Sepanjang masa berdirinya Kerajaan Mataram Islam, kerajaan ini tercatat mencapai masa kejayaan di era Raden Mas Rangsang atau yang dikenal sebagai Sultan Agung.

Sultan Agung sendiri adalah raja ketiga yang tercatat dari Kerajaan Mataram Islam. Masa pemerintahannya mulai dari tahun 1613 sampai 1645. Daerah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan sebagian Jawa Barat masuk ke dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram Islam.

Sultan Agung adalah sultan yang dikenal sangat keras menentang VOC Belanda. Ia mengerahkan pasukan ke Batavia yang menjadi pusat dari kegiatan VOC. Penyerangan dilakukan berkali-kali meski terus mengalami kegagalan.

Hingga akhirnya di tahun 1629, pasukan Sultan Agung pun ditarik mundur dari Batavia. Meninggalnya Sultan Agung menandai awal mula runtuhnya Kerajaan Mataram Islam akibat kepemimpinan tidak dipegang orang yang cakap.

Faktor Penyebab Runtuhnya Kerajaan Mataram Islam

1. Kedekatan Penguasa dengan VOC Belanda

Sultan Agung merupakan sultan yang mampu membawa Kerajaan Mataram Islam ke puncak kejayaannya. Sultan Agung juga merupakan penguasaan Kerajaan Mataram Islam yang berani menyerang langsung pusat VOC Belanda di Batavia.

Baca juga Peninggalan Kerajaan Islam di Indonesia

Sayangnya, sepeninggal Sultan Agung, Kerajaan Mataram Islam justru dipimpin oleh anak Sultan Agung yang sangat dekat dengan penjajah Belanda yakni Sultan Amangkurat I. Dimulainya kepemimpinan Sultan Amangkurat I inilah yang mengawali runtuhnya Kerajaan Mataram Islam.

Sultan Amangkurat I yang bergelar Sultan Amangkurat Senapati ing Alaga Ngabdur Rahman Sayidin Panatagama menjalin kedekatan dengan VOC bahkan hingga ke urusan kebijakan kesultanan. Sebagai penjajah, VOC bergerak sebagai musuh dalam selimut yang menginginkan kehancuran Mataram Islam.

2. Kebijakan Penguasa yang Sewenang-Wenang

Faktor yang kedua ini sebenarnya masih sangat berkaitan dengan penyebab runtuhnya Kerajaan Mataram Islam yang pertama di atas. Kedekatan antara Sultan Amangkurat I dengan penjajah VOC Belanda membuatnya mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang justru sewenang-wenang untuk rakyatnya.

Kebijakan yang dikeluarkan oleh Sultan Amangkurat I adalah kebijakan yang dinilainya sejalan dengan keinginan VOC Belanda atau setidaknya tidak bertentangan dengan apa yang dilakukan VOC. Beberapa kebijakannya yang kontroversial dan memicu kemarahan rakyat seperti:

  • Tidak menghargai peran para ulama. Sultan Amangkurat I bahkan beberapa kali melakukan upaya pembunuhan atau pembantaian ribuan ulama di masa pemerintahannya. Tercatat ribuan ulama di masanya syahid dibunuh oleh Sultan Amangkurat I dan pasukannya.
  • Penghapusan Lembaga Agama di Kesultanan. Sultan Amangkurat I menjalankan kebijakan penghapusan lembaga agama yang ada di kesultanan salah satunya adalah lembaga Mahkamah Syariah yang didirikan oleh Sultan Agung, ayah Sultan Amangkurat I.
  • Membatasi perkembangan dakwah Islam di masyarakat.
  • Melarang pengaruh agama Islam mengambil andil pada urusan kesultanan. Padahal, Sultan Agung, penguasa Kerajaan Mataram Islam sebelumnya selalu berkonsultasi dengan para ulama sebelum mengeluarkan kebijakan dalam istana.
  • Bekerjasama secara erat dengan penjajah Belanda yang jelas-jelas merugikan masyarakat pulau Jawa dan merupakan musuh bebuyutan sang ayah.

3. Terjadinya Pemberontakan

Sultan Amangkurat I memerintah mulai dari 1645 sampai 1677 dan di masanya terjadi berbagai pemberontakan. Pemberontakan terjadi akibat kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh Sultan Amangkurat I terhadap masyarakat dan juga ulama.

Nilai-nilai kearifan lokal yang tidak diindahkan oleh Sultan Amangkurat I bahkan terus dilanggar menyebabkan pemberontakan terus menggulir. Salah satu pemberontakan yang terkenal dilakukan oleh Pangeran Kajoran bekerjasama dengan Trunajaya dari Madura bersama masyarakat Mataram Islam.

Aliansi Pangeran Kajoran semakin kuat semenjak bergabungnya Karaeng Galesong yang merupakan bangsawan asal Gowa. Adipati Anom, anak dari Sultan Amangkurat I, awalnya bergabung dalam aliansi Pangeran Kajoran namun akhirnya berkhianat ketika ia sudah diterima sang ayah.

Pada tanggal 28 Juni 1677, aliansi Pangeran Kajoran berhasil menaklukkan istana Plered hingga menyebabkan Adipati Anom dan Sultan Amangkurat I melarikan diri meminta pertolongan kepada VOC di Batavia.

Kitab Babad Tanah Jawi menyebutkan bahwa peristiwa direbutnya istana Plered menandai jatuhnya Kesultanan Mataram Islam.

4. Perpecahan di Internal Kerajaan

Perebutan kekuasaan memang selalu mewarnai kancah perpolitikan dari dulu hingga sekarang, tidak terkecuali dengan Kerajaan Mataram Islam. Selain selalu didesak dari luar oleh pengaruh VOC Belanda, Kerajaan Mataram Islam terus digerogoti dari dalam akibat adanya dualisme kepemimpinan.

VOC Belanda tidak suka dengan Sultan Amangkurat III yang naik tahta menggantikan Sultan Amangkurat II. Hal ini karena Sultan Amangkurat III dikenal sangat membenci dan menentang keberadaan VOC di tanah Jawa.

Baca juga Kerajaan Islam Di Indonesia

Menghadapi hal tersebut, VOC Belanda pun mengangkat Pakubuana I sebagai penguasa Kerajaan Mataram Islam. Terjadinya dualisme kepemimpinan di dalam internal istana menyebabkan terjadinya perpecahan.

Sultan Amangkurat III pun mengadakan pemberontakan, namun kalah kemudian diasingkan ke daerah Ceylon, Srilanka.

5. Dibaginya Kerajaan Menjadi Kerajaan Kecil

Kekacauan dalam internal Kerajaan Mataram Islam terus berlanjut hingga masa kepemimpinan Pakubuana III. Kekacauan tersebut muncul karena sebagian pihak kerajaan menentang Belanda sementara sebagian lainnya terus mendukung VOC Belanda.

Pangeran Mangkubumi berada di pihak yang menentang VOC Belanda sementara Pakubuana III berada di pihak yang mendukung VOC Belanda. Kekacauan baru dapat diredakan setelah diadakannya perjanjian Giyanti di tanggal 13 Februari 1755.

Perjanjian Giyanti melibatkan kelompok Pangeran Mangkubumi, Pakubuana III sebagai pihak Kesultanan Mataram Islam dan pihak VOC. Konsekuensi dari perjanjian Giyanti adalah wilayah Kerajaan Mataram Islam dibagi menjadi 2 yakni Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Ngayogyakarta.

Baca juga Sejarah Kebudayaan Islam

Ditandatanganinya Perjanjian Giyanti menandai secara resmi berakhirnya kepemimpinan Kesultanan Mataram Islam yang sebelumnya independen. Setelahnya Kesultanan Mataram di Surakarta terpecah menjadi beberapa dinasti kecil.

Ada banyak hikmah yang bisa kita petik dari peristiwa runtuhnya Kerajaan Mataram Islam. Pelajaran penting yang bisa kita ambil adalah perpecahan di dalam internal istana sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan kerajaan. Perpecahan tersebut muncul setelah datangnya pihak ketiga yakni VOC.

Wahyoeni ✓ Seorang Muslimah yang gemar ✓ Menulis dan ✓ Kuliner. Senang mencoba dan berbagi suatu pengalaman baru ❤.