Sejarah Batu Qur’an Pandeglang Yang Perlu Anda Ketahui

Sejarah Batu Qur’an Pandeglang Yang Perlu Anda Ketahui

Islam adalah agama dengan penganut mayoritas di Negara Indonesia. mengingat akan hal itu, tentu saja tidak heran jika ada cukup banyak peninggalan sejarah Islam di Indonesia yang hingga saat ini tetap di lestarikan masyarakat. Baik dalam bentuk budaya, maupun peninggalan bentuk fisik. Salah satu diantaranya berkaitan erat dengan sejarah Batu Qur’an di Banten.

Batu Qur’an ini di kenal sebagai sebah pemandian yang hingga kini semakin banyak di kunjungi dengan daya tarik tersendirinya. Menurut sejarah yang ada, pemandian tersebut muncul pertama kalu di kaki Gunung Karang. Lokasi secara rincinya adalah di Desa Kadubumbang, kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang. Kemunculannya pun sudah sejak berabad-abad yang lalu.

Melihat akan adanya situs bersejarah tersebut, tentu saja sebagai umat Islam sangat wajar jika Anda mulai penasaran dengan bagaimana sejarah kemunculannya. Sejarah sendiri juga merupakan hal yang sangat penting untuk di ketahui. Sedangkan informasi terkait tentang sejarah kemunculan Batu Qur’an sekaligus hal-hal menarik lain tentangnya, bisa langsung Anda simak dalam ulasan berikut.

3 Versi Sejarah Batu Qur’an

Batu quran pandeglang

Dalam sejarah, tidak bisa di pungkiri bahwa sumbernya berasal dari cerita, riwayat dan sejeninya. Jika melihat akan kenyataan demikian, tentu saja sangat wajar jika pembahasan sejarah suatu hal memiliki beberapa versi. Dan hal ini tidak mengecualikan terhadap sejarah batu Qur’an ini.

Dan berikut ini merupakan 3 versi sejarah batu Qur’an yang perlu Anda ketahui.

1. Sejarah Batu Qur’an Versi Pertama

Pada versi pertama, di ketahui bahwasanya batu qur’an ini muncul pertama kali berkaitan erat dengan kisah salah satu ulama’ Banten yang amat terkenal di abad 15 M. Beliau tidak lain adalah Syekh Maulana Mansyur. Dalam versi ini pula di yakini bahwa kemunculan batu qur’an tersebut merupakan lokasi pijakan Syekh maulana Mansyur ketika beliau akan pergi ke tanah suci untuk haji.

Menurut sejarahnya, kala itu beliau hendak ke Makkah dan langkahnya di awali dari lokasi tersebut dengan membaca basmalah saja. kemudian sampailah Syekh Maulana Mansyur di Makkah tanpa melakukan perjalanan darat ataupun laut. Karena berangkat dari sana, maka dalam kepulangannya pun beliau juga muncul dari sana bersamaan dengan air yang tak berhenti mengucur.

Menurut masyarakat setempat, air yang tidak berhenti mengucur tersebut di yakini sebagai air zam-zam. Nah, melihat kucurannya yang tidak mau berhenti, maka syekh Maulana Mansyur pun berkeinginan untuk menghentikannya. Dan untuk memulai usahanya terhadap air tersebut, beliau bermunajat kepada Allah. Hal ini di lakukan dengan sholat dua rakaat di dekat kucuran air.

Selanjutnya, ketika beliau sudah selesai dengan munajatnya, turunlah petunjuk agar Syek Maulana Mansyur menutup kucuran air dengan Al-Qur’an. Akhirnya, atas izin Allah kucuran air pun berhenti dan berubahlah menjadi batu. Karena itulah di namakan dengan batu Qur’an yang hingga sekarang airnya tidak pernah kering. Dan sampai di sinilah sejarah batu qur’an Banten versi pertama.

2. Sejarah Batu Qur’an Versi Kedua

Di samping cerita sejarah batu qur’an yang berhubungan dengan Syekh Maulana Mansyur, ternyata ada juga yang meyakini bahwa sejarah batu Qur’an ini berkaitan erat dengan salah saorang ulama auliyaillah dengan nama Syekh Mansyuruddin. Dalam ranah sosial, Syeh Mansyuruddin adalah salah satu penyebar agama Islam di Banten. Selain ahli di bidang agama, beliau juga terkenal sakti.

Syekh Mansyuruddin sendiri kehidupannya berada di sekitar abad ke 17 M. Sedangkan secara nasab, beliau adalah putra dari Sultan Agung Tirtayasa. Sedangkan kesaktian Syekh Mansyaruddin sendiri hingga saat ini masih terkenal. Beliau banyak di kenal sebagai ulama’ yang mampu bersahabat denga bangsa jin serta mampu menakhlukkan harimau. Bahkan hingga keturunan-keturunannya.

Nah, kembali pada cerita mengenai sejarah batu Qur’an di Banten versi yang kedua, di percaya kala itu Syekh Mansyuruddin sedang berada di Makkah. Ketika beliau akan pulang ke Nusantara, beliau masuk dalam sumur air zam-zam. Kemudian, beliau muncul di sebuah mata air di Banten, tepatnya di sekitar daerah Cibulakan.

Ketika beliau keluar, ternyata air tersebut tidak mau berhenti dan tetap saja mengucur. Akhirnya, beliau mencoba menghentikannya dengan sebuah Al-Qur’an. Dan atas kuasa Allah kucuran tersebut akhirnya berhenti. Kemudian, dengan jari telunjuknya, beliau mengukirkan tulisan Alqur’an pada batu. Kini, batu tersebut di kenallah dengan nama batu qur’an.

3. Sejarah Batu Qur’an Versi Ketiga

Dalam versi terakhir, riwayat batu qur’an Banten ini merujuk pada keyakinan bahwa batu tersebut merupakan replika dari batu qur’an yang berada Sang Hyang Sirah. Sedangkan terkait dengan sejarahnya, di yakini berkaitan erat dengan Sayyidina Ali, Prabu Munidng Wangi dan prabu kian Santang di mana prabu Kian Santang dalam kisahnya belajar ke tanah suci pada Sayyidina Ali.

Nah, ketika beliau pulang ke tanah Pasundan, beliau mengirim utusan untuk lebih banyak mengenal tentang hukum Islam mengenai Khitan pada Sayyidina Ali di Makkah. Kemudian, di kisahkan pula bahwa Sayyidina Ali pun akhirnya datang ke Nusantara, tepatnya di Pasundan, untuk menyerahkan kitab suci pada muridnya, Prabu Kian Santang.

Sayang sekali pada saat itu sang Prabu sedang berada di sahyang sirah, Ujung Kulon untuk menemui Prabu Munding Wangi. Kemudian, pergilah sayyidina Ali ke tempat tersebut dan shalat terlebih dahulu di atas batu karang. Namun, usai shalat beliau pun menghilang dan kemungkinan telah kembali ke tanah asalnya, di Jazirah Arab.

Kemudian, setelah beberapa abad, cerita menarik ini di ketahuilah oleh Syekh Maulana Mansyur. Dengan penuh kekaguman, berangkatlah beliau ke Sahyang Sirah untuk menyaksikan langsung mukjizat Allah dalam kolam bening bertuliskan Alqur’an tersebut. Nah, karena Sahyang Sirah mungkin terlalu jauh, akhirnya di buatlah replika batu tersebut di Kabupaten Pandeglang.

Apa Yang Menarik Dari Batu Qur’an Banten

Setelah mengetahui beberapa versi dari sejarah dan asal-usul Batu Qur’an Pandeglang Banten, kini saatnya untuk mengetahui apa yang menarik dari batu Qur’an tersebut saat ini. dengan sejarah yang sangat berhubungan dengan kekuatan supranatural, dalam versi mana pun, tentu saja tidak heran jika pemandian ini banyak di percaya dalam berbagai hal.

Namun, yang pertama sangat menyentuh dari adanya kawasan tersebut adalah bentuk fisiknya. Yakni di mana ada air bening yang di dalamnya terdapat batu bertuliskan Al-Qur’an dengan ukiran yang indah. Tentu saja ini menjadi pemandangan yang begitu menarik untuk di nikmati sekaligus mengagumi kebesaran Ilahi.

Di samping itu, ternyata air di pemandian tersebut tidak pernah kering sekalipun Indonesia sedang mengalami tingkat kemarau yang tinggi. Hal ini pun menjadi daya tarik tersendirinya. Di samping itu ternyata air tersebut juga di percaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Bahkan di percaya pula dapat membuat orang awet muda dengan aura yang memancar semakin mempesona.