Sunan Ampel

Simak ulasan tentang √ Biografi sunan Ampel, √ Ajaran sunan Ampel, √ nama asli dan nama lain sunan Ampel dan √ Karomah sunan Ampel berikut.


Sunan Ampel

Ajaran Agama Islam yang berkembang pesat hingga saat ini di Nusantara tidak lepas dari perjuangan Walisongo.

Sunan-Ampel-Walisongo

Gambar Ilustrasi Sunan Ampel

Walisongo adalah orang-orang yang memiliki ilmu Agama Islam luas yang berjuang dalam menyebarkan ilmunya kepada masyarakat Indonesia, khususnya Pulau Jawa.

Salah satu Sunan Walisongo adalah Sunan Ampel. Beliau menyebarkan Islam melalui dakwah untuk memperbaiki moral yang terjadi di masyarakat kala itu.

Sebelum terjadinya penyebaran Agama Islam, masyarakat sekitar suka dengan kegiatan yang tergolong buruk. Kegiatan tesebut antara lain sabung ayam, judi, hingga menganut ajaran animisme.

Dengan begitu beliau secara perlahan melakukan penyebaran Agama Islam kepada masyarakat sekitar. Alhasil masyarakat sedikit demi sedikit mulai menganut kepercayaan Agama Islam.

Bagi Anda yang ingin mengetahui lebih jauh tentang biodata, sejarah, karomah sunan Ampel, silahkan simak penjelasannya berikut ini.

Biografi Sunan Ampel

Silahkan simak asal usul dan Biografi singkat sunan Ampel berikut ini :

Asal usul Sunan Ampel

Ayah sunan Ampel yang bernama Ibrahim Asmarakandi berasal dari negeri Samarkand. Beliau ditugaskan oleh kerajaan Turki untuk menyebarkan  agama Islam ke Asia.

Dan akhirnya beliau sampai ke negara Champa untuk menjalankan tugasnya dalam dakwah agama islam agar agama islam bisa diterima disana.

Dan beliau akhirnya menikah dengan Dewi Candrawulan. Dewi Candrawulan adalah putri raja Champa Prabu Singhawarman.

Dari hasil pernikahan antara Ibrahim Asmarakandi dan dewi Candrawulan inilah akhirnya terlahir Raden Rahmat dan Raden Santri Ali.

Keduanya kelak menjadi orang tersohor di tanah Jawa sebagai sunan yang menyebarkan agama Islam di Jawa.

Biografi Sunan Ampel

Sunan Ampel memiliki nama ketika masih kecil adalah Sayyid Muhammad Ali Rahmatullah. Saat beliau memilih pindah ke daerah Jawa Timur, masyarakat sekitar memanggilnya Raden Rahmat.

Biografi-Sunan-Ampel

Simak tabel biografi sunan Ampel berikut ini :

Biografi
Keterangan
Nama AsliRaden Rahmat
Nama LainSayyid Muhammad Ali Rahmatullah
Nama IbuDewi Candrawulan
Nama AyahMaulana Ibrahim Al-Ghazi (Ibrahim Asmarakandi)
Tahun Lahir1401 Masehi
Tahun Wafat1481 Masehi
Tempat SyiarAmpel Surabaya
Tempat MakamAmpel Denta Surabaya

Beliau lahir di Champa pada tahun 1401 Masehi. Hingga kini banyak yang berpendapat mengenai letak lokasi Champa tersebut.

Sebagian orang menyebutkan bahwa lokasi tersebut berada di Kamboja. Ada lagi yang berpendapat bahwa lokasi tersebut berada di Aceh.

Selain banyaknya pendapat mengenai lokasi lahirnya sang Sunan, masyarakat banyak mengira bahwa nama Ampel diberikan dengan alasan beliau tinggal lama di daerah Ampel Denta.

Daerah tersebut kini berada di daerah Wonokromo, Kota Surabaya. Namun hingga kini belum ada pernyataan mengenai kebenaran dari Sunan.

Raden Rahmat memiliki dua orang istri dan 11 orang anak. Istri pertama beliau bernama Dewi Condrowati atau biasa dikenal dengan Nyai Ageng Manila.

Dari istri pertama ini, beliau memiliki 5 orang anak yang bernama :

  1. Maulana Mahdum Ibrahim (Sunan Bonang)
  2. Syarifuddin (Sunan Drajat)
  3. Siti Syarifah (Istri Sunan Kudus)
  4. Siti Muthmainnah
  5. Siti Hafsah

Sedangkan Istri keduanya bernama Dewi Karimah.

Dengan istri keduanya ini beliau memiliki 6 orang anak yang bernama :

  1. Dewi Murtasiyah
  2. Dewi Murtasimah
  3. Raden Husamuddin
  4. Raden Zainal Abidin
  5. Pangeran Tumapel
  6. Raden Faqih

Metode Dakwah yang Dilakukan Sunan Ampel

Raden Rahmat membagi metode dakwah dengan beberapa cara kepada masyarakat menengah kebawah dan juga pada masyarakat cendikia yang memiliki pemikiran luas.

Metode penyebaran Islam beliau dinilai berbeda dari metode dakwah Sunan lainnya.

Hampir semua Sunan menggunakan metode berupa pendekatan seni budaya, namun Raden Rahmat menggunakan pembauran dan juga pendekatan intelektual dengan diskusi kritis dan cerdas di dalamnya.

Metode pertama beliau adalah dengan membaur dalam pergaulan dengan masyarakat menengah ke bawah. Dalam proses pembauran tersebut diselipkan sedikit demi sedikit tentang ajaran Agama Islam.

Saat proses penyebaran, pengetahuannya tentang Agama Islam sangatlah diuji oleh masyarakat sekitar. Masyarakat tersebut memiliki banyak pertanyaan mengenai Agama Islam.

Proses penyebaran Agama Islam terbilang cukup sulit. Hal ini karena keadaan masyarakat sekitar yang pada saat itu tergolong jumud, sangat asing, dan juga kolot.

Dengan begitu Raden Rahmat dengan segala kemampuan dan ilmunya mencoba beradaptasi dengan keadaan sosial budaya yang ada di daerah sekitar. Akhirnya kala itu beliau dapat mensejajarkan kalangan elite dengan kaum muslim.

Pada saat penyebaran Agama Islam, pemerintahan berada di bawah Kerajaan Majapahit. Meski demikian Pemerintah kerajaan tidak melarang adanya penyebaran Agama Islam tersebut.

Bahkan mereka sangat menghargai dan menghormati hak dan kewajiban yang telah diajarkan oleh sunan Ampel. Sehingga lambat laun punggawa kerajaan memilih untuk memegang teguh kepercayaanya pada Agama Islam.

Metode kedua yang dilakukan Raden Rahmat adalah dengan pendekatan intelektual dengan diskusi kritis dan cerdas di dalamnya yang dapat diterima oleh akal manusia.

Metode pendekatakan ini digunakan untuk menyebarkan Agama Islam kepada masyarakat yang tergolong cendekia atau cerdik.

Simak dan baca : Sunan Gunung Jati

Ajaran Moh Limo Oleh Sunan Ampel

Sunan Ampel memiliki falsafah dakwah yang bertujuan untuk memperbaiki moral buruk pada masyarakat sekitar.

Dalam dakwah yang dilakukan, beliau mengajarkan “Moh Limo” kepada masyarakat sekitar.

Kata “Moh” berasal dari bahasa Jawa yang artinya tidak, dan “Limo” artinya Lima. Jadi Moh Limo adalah “Tidak melakukan lima hal atau perbuatan yang dilarang oleh Allah”.

Isi dari ajaran Moh Limo adalah:

  1. Moh Mabuk (Tidak mabuk atau minum-minuman).
  2. Moh Main (Tidak main atau tidak berjudi).
  3. Moh Madon (Tidak main perempuan).
  4. Moh Madat (Tidak memakai obat-obatan).
  5. Moh Maling ( Tidak Mencuri).

Bahkan ajaran Moh Limo ini sampai sekarang masih menjadi ajaran yang dipegang umat muslim hingga saat ini. Dalam masyarakat sekarang dikenal dengan istilah 5M.

Adanya ajaran yang dilakukan oleh Raden Rahmat, disambut baik oleh Prabu Brawijaya. Bahkan dia menganggap ajaran Agama Islam adalah yang mulia.

Akan tetapi Prabu Brawijaya tidak mau mamemluk Agama Islam karena ingin menjadi Raja Majapahit terakhir yang memeluk Agama Budha.

Pada saat itu juga raja memberikan izin untuk menyebarkan Agama Islam di sekitar Kerajaan Majapahit dan juga di Surabaya, namun dengan catatan tidak boleh di paksa.

Simak dan baca : Biografi Sunan Gresik

Karomah Sunan Ampel

Hampir semua aggota Walisongo memiliki karomah yang luar biasa, begitu juga dengan sunan Ampel.

Simak karomah sunan Ampel berikut ini :

1. Sunan Ampel Bisa Berjalan di Atas Air

Karomah-Sunan-Ampel
Karomah Sunan Ampel Bisa Berjalan di Atas Air

Dalam perjalanan dakwahnya beliau bertemu dengan pertapa di pinggir sungai. Pertapa tersebut sedang berusaha untuk menyeberangi sungai tanpa menggunakan media apapun alias hanya berjalan di permukaan air.

Akan tetapi ia selalau gagal dan jatuh ke air. Melihat hal ini sunan Ampel memberitahukan kalau usaha pertapa ini sia-sia. Namun sang pertapa tidak mengindahkan kata-kata sunan Ampel dan meminta beliau pergi untuk tidak mengganggunya.

Kemudian sunan Ampel pergi meninggalkan sang pertapa dengan berjalan di atas air untuk menyeberangi sungai tersebut.

Melihat hal ini sang pertapa sangat terkejut dan mengejar sang sunan untuk memohon agar diajari bagaimana cranya agar bisa berjalan di atas air seperti kanjeng sunan.

Setelah sunan mengajarinya akhirnya sang pertapa dapat berjalan diatas air juga. Namun sunan berpesan agar kemampuannya dipergunakan dengan baik. Selalu mensyukuri nikmat-Nya dalam rangka ibadah kepada-Nya.

2. Mbah Sholeh yang Hidup 9 Kali

Ada salah satu murid beliau yang banyak dikenal masyarakat yaitu Mbah Sholeh. Mbah Sholeh merupakan marbot Masjid Ampel yang selalu bersih dalam menyapu lantai tanpa ada debu sedikitpun.

Mbah Sholeh memiliki keistimewaan yang tergolong luar biasa. Sehingga tidak heran bila dia banyak disayangi oleh orang orang.

Pernah suatu ketika Raden Rahmat tidak sengaja berbicara bahwa Mbah Sholeh akan hidup sebanyak 9 kali.

Dari pernyataan tersebut ternyata terjadi di kemudian hari. Saat dia wafat tidak ada orang satupun yang bisa membersihkan masjid hingga bersih tanpa ada debu sedikitpun.

Saat itu juga Raden Rahmat mengatakan bahwa bila Mbah Sholeh masih hidup, pasti masjid menjadi sangat bersih.

Kemudian Mbah Sholeh berada di dalam masjid sedang bersih bersih. Alhasil masjid menjadi bersih kembali.

Bahkan banyak orang yang bertanya tanya alasan Mbah Sholeh hidup kembali. Setelah beberapa bulan, Mbah Sholeh wafat kembali. Lalu Sunan kembali mengatakan hal serupa yang membuat Mbah Sholeh hidup kembali.

Kejadian Mbah Sholeh berlangsung terus menerus. Untuk yang ke 8 kalinya, Raden Rahmat wafat. Kemudian beberapa hari setelah beliau wafat, disusul oleh Mbah Sholeh.

Alhasil dia memiliki 9 makam yang letaknya berada di samping Raden Rahmat. Dengan adanya hal tersebut membuat kisah Mbah Sholeh banyak dikenal oleh masyarakat luas.

Bahkan hingga kini cerita tersebut masih banyak diceritakan oleh warga sekitar ketika berkunjung ke masjid sunan Ampel di Surabaya tersebut.

Simak dan baca : Biografi Sunan Muria

Penerus Dakwah Sunan Ampel

Setelah berjuang untuk menyebarkan Agama Islam, kini Raden Rahmat memiliki murid. Murid murid beliau berasal dari berbagai kalangan antara lain rakyat jelata, Pangeran Majapahit, bangsawan hingga anggota Walisongo sendiri.

1. Raden Paku atau Sunan Giri

Joko Samudro adalah pemuda yang berasal dari Gresik putra angkat dari Nyai Ageng Pinatih yaitu saudagar wanita yang kaya raya.

Joko Samudro merupakan salah satu santri di pesantren sunan Ampel yang cerdas dan pintar dalam menguasai ajaran-ajaran di pesantrennya sunan Ampel.

Joko Samudro ini ternyata masih keponakannya sunan Ampel yang merupakan putra dari pamannya yang bernama Syekh Maulana Ishaq.

Pamannya menikah dengan putri Majapahit yaitu Dewi Sekardadu yang sebelumnya sakit parah dan dapat disembuhkan oleh Syekh Maulana Ishaq.

Setelah mengetahui kalau Joko Samudro adalah keponakannya, maka sesuai dengan pesan pamannya untuk memberi nama Raden Paku kepadanya.

Sejak itu Joko Samudro dikenal sebagai Raden Paku. Dan setelah lulus dalam belajar agama Islam kepada sunan Ampel, Raden Paku diutus oleh sunan Ampel untuk belajar Islam ke Champa.

Setelah memilki ilmu Agama yang sangat luas, akhirnya Raden Paku pulang ke Jawa dan mendirikan pesantren di Giri Kedathon. Untuk itu akhirnya Raden Paku dikenal sebagai sunan Giri.

Sunan Giri menjadi penerus dakwah sunan Ampel dengan mendirikan pesantren di Gresik dan santri-santrinya berasal dari berbagai wilayah di Nusantara.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang bigrafi, sejarah, karomah sunan Giri, silahkan simak dan baca juga : Biografi Sunan Giri

2. Maulana Makhdum Ibrahim atau Sunan Bonang

Maulana Makhdum Ibrahim adalah putranya sunan Ampel sekaligus sebagai santri yang belajar agama Islam di pesantrennya.

Dari kecil Maulana Makhdum Ibrahim ini sudah digembleng oleh sunan Ampel untuk terus diajari dengan berbagai ilmu sastra, sejarah, tauhid, agama Islam.

Bersama dengan sahabatnya raden Paku sebagai santri di Ampel, Maulana Makhdum Ibrahim juga diutus untuk belajar agama islam ke Champa.

Kurang lebih selama 3 tahun mereka berdua belajar agama di sana. Setelah mendapatkan banyak ilmu pengetahuan islam dari Champa, akhirnya mereka kembali ke Jawa.

Maulana Makhdum Ibrahim menyiarkan dan dakwah agama islam di daerah Bonang, Tuban Jawa Tinur. Dan karena di Bonang inilah, maka beliau dikenal sebagai sunan Bonang.

Sunan Bonang menjadi penerus dakwah ayahnya sendiri yaitu sunan Ampel. Beliau membangun pesantren di daerah Bonang, Tuban, Jawa Timur.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang bigrafi, sejarah, karomah sunan Bonang, silahkan simak dan baca juga : Biografi Sunan Bonang

3. Raden Qasim atau Sunan Derajat

Raden Qasim adalah putra dari sunan Ampel dan merupakan adik dari Maulana Makhdum Ibrahim (sunan Bonang).

Sunan Derajat adalah putra dari sunan Ampel dengan istri pertamanya yaitu Dewi Condrawati.

Sunan Derajat belajar agama islam dari ayahnya di pondok pesantren yang ada di Ampel Denta. Beliau terkenal dengan jiwa sosial yang tinggi dan tema-tema dakwahnya yang selalu berorientasi pada gotong-royong.

Beliau selalu terbuka untuk menolong orang-orang yang yang membutuhkan, mengasihi anak yatim dan menyantuni fakir miskin.

Sunan Derajat menjadi penerus dakwah islam sunan Ampel. Sunan Derajat mendirikan pesantren di daerah Lamongan Jawa Timur.

Sampai sekarang di sekitar wilayah kompleks sunan Drajat masih menjadi pusat syiar dan pendidikan islam.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang bigrafi, sejarah, karomah sunan Derajat, silahkan simak dan baca juga : Biografi Sunan Drajat

4. Raden Fatah Sebagai Raja Demak

Raden Fatah adalah raja atau sultan Demak Bintara yang pertama. Beliau adalah sultan Demak yang diangkat oleh para Walisongo.

Raden Fatah adalah muris seklaigus menantu dari sunan Ampel yang menjadi sultan kerajaan islam yang berada di Demak.

Beliau menjadi penerus dakwah sunan Ampel dengan mengajak rakyatnya untuk memeluk islam dan menerapkan hukum-huku islam di kerajaannya.

Makam Sunan Ampel

Makam-Sunan-Ampel
Makam Sunan Ampel dan Istrinya Nyai Condrowati

Wafatnya sunan Ampel tidak ada sumser yang pasti, dan di makam sunan Ampel tidak tercatat kapan tahun beliau wafat. Namun berdasarkan dari Babad Gresik sunan Ampel wafat pada tahun 1481 Masehi.

Beliau di makamkan di Ampel Denta, Surabaya. Hingga kini banyak pengunjung dari berbagai daerah yang mengunjungi makam beliau.

Simak dan baca juga : Biografi Sunan Kalijaga

Demikian ulasan mengenai sejarah Sunan Ampel. Ajaran Agama Islam yang telah disebarkan, harus tetap dijaga dan diterapkan dengan sebaik baiknya. Perlu diingat bahwa dalam mengajarkan Agama Islam harus dilakukan dengan sikap dan perilaku lembut serta tanpa adanya pemaksaan.

Loading...

Sejarah Khalifah Islam

Wahyoeni
3 min read

Sunan Muria

Wahyoeni
6 min read

Sunan Kalijaga

Wahyoeni
16 min read

Sunan Gunung Jati

Wahyoeni
6 min read

Sunan Gresik

Wahyoeni
6 min read

Sunan Kudus

Wahyoeni
6 min read