Sunan Bonang

Simak ulasan tentang √ Biografi sunan Bonang, √ Ajaran sunan Bonang, √ nama asli sunan Bonang dan √ Karomah sunan Bonang berikut ini.


Sunan Bonang

Agama Islam telah menjadi agama mayoritas di Negara Indonesia. Hal ini tidak lepas dari perjuangan para anggota Walisongo dalam menyebarkan ajaran Agama Islam.

Sunan-Bonang-Walisongo

Gambar Ilustrasi Sunan Bonang

Walisongo adalah tokoh agama yang disegani dan dihormati oleh masyarakat karena jasanya dalam menyebarkan Agama Islam.

Walisongo terdiri dari 9 Sunan di dalamnya, yaitu :

  1. Sunan Gresik
  2. Sunan Ampel
  3. Sunan Bonang
  4. Sunan Giri
  5. Sunan Derajat
  6. Sunan Kalijaga
  7. Sunan Kudus
  8. Sunan Muria
  9. Sunan Gunung Jati

Dalam kenaggotaan diatas salah satunya adalah Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim. Beliau adalah kakak dari sunan Drajat dan putra dari Raden Rahmat atau Sunan Ampel.

Raden Makhdum Ibrahim dikenal sebagai imam besar dan juga guru di Pulau Jawa yang sangat dihormati serta dikenal oleh masyarakat sekitar. Beliau dianugerahi oleh Allah SWT berupa ilmu dan pengetahuan luas.

Sehingga tidak heran jika beliau merupakan guru besar di Pulau Jawa. Untuk mengetahui penjelasan mengenai Raden Makhdum Ibrahim secara detail, Anda dapat menyimak artikel berikut ini.

Biografi Sunan Bonang

Biografi-Sunan-Bonang

Raden Makhdum Ibrahim merupakan anak dari pasangan Raden Rahmat atau Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila, yang lahir pada 1465 Masehi.

Beliau adalah cucu dari Sunan Gresik atau Syekh Maulana Malik Ibrahim.

Sehingga dapat ditarik silsilah merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW. Beliau juga merupakan seorang kakak dari Sunan Drajad atau Raden Qosim.

Berikut Ringkasan Biografi Sunan Bonang :

Biografi
Keterangan
Nama AsliRaden Makhdum Ibrahim
Nama LainLiem Bong Ang
Nama IbuNyai Ageng Manila
Nama AyahRaden Rahmat
Tahun Lahir1465 Masehi
Tahun Wafat1525 Masehi
Tempat SyiarDesa Bonang Kabupaten Rembang
Tempat Makam– Sebelah Masjid Agung Tuban, Jawa Timur
– Kampung Tegal Gubug, Pulau Bawean, Jawa Timur

Pengetahuannya tentang Agama Islam sudah tidak perlu diragukan lagi.

Hal ini karena sejak kecil, Raden Makhdum Ibrahim telah diajarkan tentang ajaran Agama Islam dengan disiplin dan juga tekun oleh Sunan Ampel yang merupakan ayah beliau.

Untuk riyadhoh atau berlatih menjadi seorang Walisongo, beliau harus melakukan perjalanan jauh ketika masih berusia muda.

Ketika usia Raden Makhdum Ibrahim menginjak remaja, beliau melakukan penyeberangan ke Pasai, Aceh.

Perjalanan ini untuk mendapatkan ajaran Agama Islam dari Syekh Maulana Ishak dengan ditemani oleh Sunan Giri atau Raden Paku.

Kemudian setelah dirasa cukup, beliau kembali ke Pulau Jawa dan tinggal di Pantai Utara atau di daerah Bonang.

Menurut kabar yang berkembang di masyarakat, Raden Makhdum Ibrahim tidak menikah.

Hal ini karena beliau ingin mengabdikan hidupnya untuk dapat melakukan penyebaran Agama Islam ke masyarak Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.

Dalam versi Cina menurut naskah dari klenteng Talang menyebutkan bahwa nama kecil sunan Bonang Adalah Liem Bong Ang. Dengan nama ini dalam pengucapan menjadi Bonang.

Beliau adalah putra Bong Swi Ho yang dikenal dengan sunan Ampel. Dengan demikian beliau adalah cucu buyut dari Bong Tak Keng yaitu kakek Bong Swi Hwo.

Dari informasi ini, menyebutkan bahwa sunan Bonang adalah keturunan Cina yang memperoleh ajaran dan pendidikan Jawa.

Metode Dakwah Sunan Bonang Melalui Kebudayaan Jawa

Raden Makhdum Ibrahim menggunakan kebudayaan jawa yang sudah lama ada, untuk menarik perhatian masyarakat sekitar.

Hal ini bertujuan untuk menanamkan ajaran Agama Islam tanpa harus mengubah kebiasaan dan juga unsur budaya yang telah ada sebelumnya.

Beliau memanfaatkan kesenian rakyat berupa permainan gamelan bonang dan juga pertunjukan wayang.

Gamelan bonang adalah salah satu alat kesenian daerah berbentuk bulat lengkap dengan benjolan di tengah yang terbuat dari kuningan.

Gamelan-Bonang

Alat kesenian ini dibunyikan dengan menggunakan kayu kecil yang kemudian akan menghasilkan suara merdu.

Bila Sunan memainkan gamelan bonang ini, akan menghasilkan suara merdu yang enak untuk didengarkan. Sehingga masyarakat akan sangat senang jika beliau memainkan gamelan tersebut.

Raden Makhdum Ibrahim memiliki bakat dalam bidang seni yang tergolong tinggi. Beliau menciptakan berbagai lagu sebagai pengiring dalam pertunjukan wayang.

Dalam lagu tersebut selalu diselipkan ajaran Agama Islam dan juga “Dua Kalimat Syahadat”.

Dengan cara ini akan memudahkan masyarakat sekitar dalam menerima ajaran Agama Islam dengan mudah dan tidak adanya paksaan sedikitpun. Setelah itu, beliau akan mengajarkan Islam lebih mendalam lagi.

Pada pertunjukan wayang yang beliau mainkan, selalu disematkan ajaran Islam dan juga kalimat dzikir untuk membuat masyarakat sekitar selalu ingat dengan dunia akhirat.

Beliau sangat mahir dalam memainkan wayang hingga membuat masyarakat terbius dengan pertunjukannya. Saat itu, beliau memainkan wayang dengan kisah Pandawa dan Kurawa yang terkenal dengan ajaran Hindu.

Metode Dakwah Sunan Bonang Melalui Karya Sastra

Raden Makhdum Ibrahim juga melakukan metode dakwah melalui karya sastra yang berupa suluk atau tembang tamsil.

Karya beliau yang masih dikenal hingga sekarang salah satunya adalah lagu Tombo Ati.

Berikut adalah karya sastra yang digunakan beliau dalam melakukan dakwah.

1. Suluk Wujil

Raden Makhdum Ibrahim menggunakan Suluk Wujil dalam metode dakwah. Dalam Suluk Wujil terkandung dua makna yang ingin disampaikan beliau.

Makna pertama adalah beliau ingin menggambarkan keadaan peraliharan ajaran Agama Hindu berubah menjadi Islam.

Peralihan ajaran tersebut mencakup semua aspek antara lain politik, budaya, sastra, kepercayaan, dan juga intelektual. Hal ini terjadi pada runtuhnya Kerajaan Majapahit diganti Kesultanan Demak.

Kemudian makna kedua adalah perenungan Ilmu Ketuhanan serta apa saja yang dimiliki-Nya atau biasa dikenal dengan Ilmu Sufi.

Munculnya Suluk Wujil dilatar belakangi oleh adanya keingintahuan seorang murid yang bernama Wujil Kinasih tentang ajaran agama hingga bagian terdalam.

Alhasil muncullah Suluk Wujil yang memiliki makna tersirat berupa tujuan melakukan ibadah, pengenalan diri sendiri, dan juga hakikat dari adanya sebuah niat.

2. Gita Suluk Latri

Raden Makhdum Ibrahim menggunakan Gita Suluk Latri dalam metode dakwah. Suluk ini berada di Universitas Laiden hingga saat ini.

Makna dalam suluk tersebut adalah seseorang yang menunggu Sang Kekasih hingga merasa gelisah.

Hingga malam menjadi larut, perasaan gelisahnya menjadi semakin bertambah. Kemudian Sang Kekasih datang yang membuat dia lupa dengan segalanya. Alhasil dia terbawa ombak dan hanyut ke lautan tanpa berwujud.

3. Suluk Jebeng

Raden Makhdum Ibrahim menggunakan Suluk Jebeng dalam metode dakwah. Dalam suluk ini terdapat Tembang Dandanggula yang terkenal.

Lahirnya Suluk Jebeng karena ada percakapan mengenai pengenalan diri sendiri agar berada di jalan yang benar dan juga tentang pembentukan khalifah yang ada di bumi.

Selain itu, Suluk Jebeng juga menggambarkan hubungan kuat dan saling mengenal antara Tuhan dengan manusianya.

4. Suluk Khalifah

Raden Makhdum Ibrahim menggunakan Suluk Khalifah dalam metode dakwah. Suluk ini berisi tentang perjalanan Walisongo dalam menyebarkan ajaran Agama Islam di Indonesia.

Dalam syair Suluk Khalifah juga, menjelaskan perjuangan Walisongo dalam mengajarkan masyarakat tentang Islam, hingga memeluk Agama Islam.

Ada juga penjelasan mengenai Kisah Raden Makhdum Ibrahim dalam menjalankan riyadhoh ke Pasai dan juga perjalanan beliau ibadah haji.

Beliau mengajarkan ilmu melalui dzikir dan sholat atau cara sujud kepada murid muridnya.

Sunan Bonang juga mengajarkan dzikir dengan gerakan fisik yang diajarkan oleh Rasullah SAW lengkap dengan keseimbangan pernafasan yang dikenal dengan Alif Lam Mim.

Raden Makhdum Ibrahim mengajarkan ilmu yang diambil dari seni huruf Hijaiyyah dengan gerakan fisik yang penuh makna dan tujuan tertentu.

Dengan kata lain, beliau ingin mengajarkan untuk menghafal huruf hijaiyyah sebanyak 28 untuk dapat membaca Al Quran. Hingga kini ilmu yang diajarkan beliau masih diterapkan di Silat Tauhid Indonesia.

Simak dan baca juga : Biografi Sunan Giri

Tembang Tombo Ati

Tembang Tombo Ati” atau “Lagu Obat Hati” adalah tembang ciptaan sunan Bonang yang terkenal sampai sekarang dan dapat Anda dengarkan.

Berikut lirik dari tembang Tombo Ati :

Tombo Ati iku limo sakwarnane

Moco Quran angen-angen sak maknane

Kaping pindho sholat wengi lakonono

Kaping telu wong kang sholeh kanconono

Kaping papat kudu weteng ingkang luwe

Kaping limo dzikir ingkang suwe

Artinya :

Obat Hati itu ada lima perkara

Bacalah Quran beserta isinya

Yang Kedua Sholat malam dirikanlah

Yang ketiga bertemanlah dengan orang-orang sholeh

Yang keempat jalankanlah puasa

Yang kelima berdzikirlah di malam hari

Tembang ini mempunyai makna dengan memberikan nasehat kepada setiap umat muslim untuk selalu tenang dan selalau dekat dengan Allah dengan melaksankan 5 perkara.

Jika 5 perkara diatas kita kerjakan, maka hidup kita sebagai hamba Allah akan bahagia. Dengan demikian hati kita akan damai dan tenteram dalam menjalani kehidupan ini.

Kelima perkara itu adalah membaca Al Quran dan artinya, mendirikan sholat sunnah malam seperti sholat tahajud dan sholat witir, berteman dengan orang yang sholeh, menjalankan puasa dan berdzikir di malam hari.

Karomah Sunan Bonang

Sunan Bonang dikenal dengan penguasaan ilmu yang tinggi. Beliau memiliki ilmu berupa tasawuf, sastra, arsitektur, ilmu fiqih, ushuludin, seni, ilmu kebatinan, ilmu sakti lainnya, dan kedigdayaan tinggi.

Simak beberapa karomah sunan Bonang berikut ini.

1. Mengubah Buah Kolang-Kaling Menjadi Emas

Buah Aren atau disebut juga dengan kolang-kaling disebut-sebut sebagai buah yang mendapatkan karomah dari sunan Bonang.

Kepercayaan atau kegenda ini muncul dari kisah sunan Bonang yang di hadang oleh kawanan perampok yang dipimpin oleh Lokajaya. Lokajaya adalah perampok yang menguasai hutan Jatisari saat itu.

Lokajaya adalah Raden Mas Said yang waktu itu belum menjadi seorang wali dan menjadi perampok yang kejam untuk mermapok para pedagang yang melewati hutan Jatisari.

Ketika sunan Bonang melewati hutan Jatisari, beliau dicegat oleh Lokajaya. Melihat tongkat sunan Bonang yang berlapis emas, Lokajaya berkeinginan untuk mengambilnya secara paksa.

Namun ketika Lokajaya mendekat untuk merebut tongkatnya, sunan Bonang menunjukkan tongkatnya ke arah buah aren sambil berkata, “Lihat itu lebih banyak emas disana”.

Dan benar-benar nyata, buah aren atau kolang-kalng yang ditunjuk berubah menjadi emas. Melihat hal itu, Lokajaya menjadi sadar, dan ingin berguru kepada sunan Bonang.

Dan akhirnya berandal Lokajaya atau raden mas Said diterima sebagai muridnya dengan syarat menjaga tongkatnya yang ditancapkan dipinggir kali.

Karomah-Sunan-Bonang

Hingga 3 tahun berselang, sunan Bonang baru ingat dan akhirnya menghampiri raden Mas Said yang bertapa menunggu tongkat sunan Bonang di pinggir kali.

Karena itulah, maka setelah belajar dengan beliau, dan diangkat menjadi seorang wali, maka raden Mas Said dikenal dengan nama sunan Kalijaga (Penjaga kali atau sungai).

Simak dan baca juga : Biografi Sunan Kalijaga

2. Sunan Bonang Didatangi Brahmana Dari India

Ketenaran sunan Bonang bukan hanya terkenal di Nusantara, namun juga terkenal hingga luar negeri. Nama sunan Bonang terkenal hingga negeri India.

Untuk itu ada seorang brahmana dari India yang ingin bertemu dengan beliau untuk beradu kesaktian dan wawasan.

Brahmana dari India ini kemudian berlayar ke Jawa untuk menemui sunan Bonang. Namun dalam pelayarannya ini, kapal yang ditumpanginya karam dan tenggelam beserta buku-buku atau kitab-kitab yang dibawanya.

Sang Brahmana selamat, dan terdampar di pantai Tuban dalam keadaan pingsan. Ketika siuman, dari kejauhan terlihat ada orang berjubah putih dan bertongkat mendekatinya.

Sang Brahmana memperhatikan orang tersebut dan bertanya, “Tempat apakah ini namanya?”

Sebelum memberi jawaban, orang berjubah putih itu kemudian menancapkan tongkatnya di depan sang Brahmana. kemudian bertanya tentang maksud dari perjalanan Brahmana hingga karam dilautan.

Sang Brahmana bercerita kalau niatnya adalah menemui sunan Bonang untuk mengadu ilmu pengetahuan dan kesaktian. Namun karena kapal yang ditumpanginya karam, buku-buku dan kitab-kitab yang ia bawa ikut tenggelam.

Mendengar cerita Brahmana, orang berjubah putih tersebutt mencabut tongkatnya.

Seketika itu sang Brahmana terkejut, karena dari lubang bekas tongkat itu keluar air dan memancar dengan deras. Selain itu juga muncul buku-buku dan kitab-kitab sang Brahmana yang tenggelam di laut.

Orang berjubah putih itu berkata, “Bukankah ini buku-buku dan kitab-kitab yang engkau maksudkan?”

Dengan peristiwa ini sang Brahmana tidak ragu lagi bahwa yang dihadapannya adalah sunan Bonang.

Kemudian sang Brahmana berjongkok dan bersujud di hadapan sunan Bonang dan memohon maaf serta meminta agar dijadikan sebagai muridnya.

Dan air yang memancar keluar dari lubang itu, sampai sekarang masih mengalirkan air tawar. Oleh masyarakat Tuban, disebut sebagai sumur Brumbung atau Boom.

3. Mengubah Aliran Sungai Brantas

Dengan kesaktian dan kemampuan sunan Bonang, beliau dapat mengubah aliran sungai Brantas di Jawa Timur.

Hal ini dilakukan karena banyak yang enggan menerima dakwah beliau di aliran sungai Brantas. Maka beliau memindahkan aliran sungai Brantas agar tidak melalui wilayah tersebut.

Maka wilayah-wilayah yang enggan menerima dakwah beliau menjadi kekeringan atau kekurangan air. Dengan kejadian ini akhirnya orang-orang sadar dan mulai ingin belajar lebih jauh tentang ajaran Islam.

Dan akhirnya ajaran sunan Bonang banyak diterima oleh kalangan masyarakat di sekitar sungai Brantas tersebut.

4. Mengalahkan Tokoh Buta Lokaya dan Nyai Pluncing

Sunan Bonang Juga sering bedebat tentang beberapa tokoh Hindu seperti tokoh Buta Lokaya yang selalu mengecam tindakan dakwahnya.

Namun dengan kesaktian dan pengetahuan beliau yang sangat luas, Buta Lokaya tidak kuasa menghadapi kesaktiannya.

Beliau juga berhadapan dengan tokoh Nyai Pluncing yang sakti mandraguna sebagai penerus ajaran sesat Calon Arang dari Bali.

Dan lagi-lagi sunan Bonang dapat mengalahkan kesaktian Nyai Pluncing tersebut.

5. Anak Ayam Menang Melawan Ayam Jago Dalam Sabung Ayam

Bagi umat muslim, sabung ayam sangat dilarang karena bertentangan dengan ajaran agama islam.

Namun karena mendapat tantangan dari Ajar Bacak Ngilo dengan taruhan kalau yang kalah akan menjadi pengikutnya.

Maka sunan Bonang mengutus muridnya yaitu santri Mujil untuk beradu ayam dengan Ajar Bacak Ngilo.

Namun disini yang dipilih oleh beliau bukan ayam jago yang biasa untuk sabung ayam. Ayam yang dipilih adalah anak ayam (dalam bahasa jawa disbut khutuk) yang masih kecil.

Dikisahkan, jika khutuk ini setiap kali terjatuh, maka tubuhnya akan bertambah besar setiap ditiup oleh santri Mujil.

Sampai akhirnya anak ayam milik santri Mujil ini bisa mengalahkan ayam jago milik Balacak Ngilo.

Itulah beberapa karomah sunan Bonang yang sangat luar biasa, dan hanya seorang wali Allah yang memilikinya.

Simak dan baca juga : Biografi Sunan Kudus

Makam Sunan Bonang

Makam-Sunan-Bonang
Makam Sunan Bonang di Masjid Agung Tuban

Beberapa wali atau sunan biasanya dimakamkan di belakang masjid tempat dia berdakwah.

Untuk makam sunan Bonang terdapat suatu kisah yang menyebabkan adanya 2 makam untuknya.

Makam sunan Bonang ada 2 yaitu :

  1. Makam sunan Bonang di kampung Tegal Gubug, Pulau Bawean (Pulau di laut Jawa sebelah utara Tuban)
  2. Makan sunan Bonang di Masjid Agung Tuban

Hal ini dikisahkan ketika beliau mengadakan dakwah ke Bawean, beliau mendadak sakit dan wafat pada tahun 1525 Masehi.

Murid-muris yang di Bawean menghendaki beliau dimakamkan di Bawean. Namun murid-muridnya yang dari Tuban tidak setuju, mereka menginginkan sunan Bonang dimakamkan di Tuban.

Karena diminta secara sukarela tidak boleh, santri-satri dari Bawean tetap ingin memakamkan beliau di Bawean.

Maka pada malam harinya santri-santri dari Tuban me-nyirep atau menidurkan santri-santri Bawean yang menunggu jenazah sunan Bonang.

Dan akhirnya jenazah sunan Bonang bisa dibawa berlayar ke Tuban dan dimakamkan dekat Masjid Agung Tuban.

Namun anehnya, jenazah yang di Bawean ternyata juga masih ada, tetapi kafannya tinggal satu, demikian juga kafan jenazah yang dibawa ke Tuban.

Akhirnya pagi harinya jenazah yang di Bawean dimakamkan di Bawean tepatnya di desa Tegal Gubug Bawean.

Dan sampai sekarang terdapat 2 makam sunan Bonang yangmasih terjaga sampai sekarang.

Simak dan baca juga : Sejarah Khalifah Islam

Demikian penjelasan mengenai Sejarah Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim. Anda dapat mempelajari berbagai ilmu yang diajarkan oleh beliau selama menyebarkan ajaran Agama Islam. Anda juga dapat mengajarkan ilmu yang diwariskan beliau kepada keluarga anda.

Loading...

Sejarah Walisongo

Wahyoeni
10 min read

Biodata Nissa Sabyan

Wahyoeni
3 min read

Sejarah Khalifah Islam

Wahyoeni
3 min read

Sunan Muria

Wahyoeni
6 min read

Sunan Kalijaga

Wahyoeni
16 min read

Sunan Gunung Jati

Wahyoeni
6 min read