Sunan Giri

Simak ulasan tentang √ Biografi sunan Giri, √ Ajaran sunan Giri, √ nama asli dan nama lain sunan Giri dan √ Karomah sunan Giri berikut.


Sunan Giri

Penyebaran agama Islam di Indonesia, khususnya Pulau Jawa dilakukan oleh Walisongo.

Sunan-Giri-Walisongo

Gambar Ilustrasi Sunan Giri

Walisongo merupakan tokoh agama yang disegani dan dihormati oleh masyarakat karena jasanya dalam menyebarkan ajaran Agama Islam. Salah satu tokoh dari Walisongo adalah Sunan Giri atau Raden Paku.

Beliau adalah putra dari seorang ulama dari Gujarat yang menikah dengan Dewi Sekardadu. Ibu Sunan merupakan anak dari Kerajaan Hindu yang terletak di Blambangan.

Beliau merupakan pendiri kerajaan Giri Kedathon di Gresik. Beliau memilki peranan penting dalam penyebaran agama islam di Jawa dan di Nusantara dengan memanfaatkan kekuasannya dan melalui jalur perdagangan.

Sunan Giri mengembangkan pendidikan dakwah islam dengan menerima murid dari berbagai wilayah di Indonesia.

Sejarah mencatat jejak dakwah beliau beserta keturunannya mencapai daerah Banjar, Martapura, Pasir, Nusa Tenggara, Kepulauan maluku, Buton, Gowa di Sulawesi serta Kutai di Kalimantan.

Bagi Anda yang ingin mengetahui penjelasan mengenai biografi Sunan Giri secara detail, silahkan simak artikel berikut ini.

Biografi Sunan Giri

Biografi-Sunan-Giri

Sunan Giri memilki perjalanan kisah yang sangat mengharukan ketika dilahirkan. Simak asal usul sunan Giri berikut.

Asal usul Sunan Giri

Ayahnya yang bernama Syekh Maulana Ishaq, memiliki ketertarikan untuk melakukan penyebaran ajaran Agama Islam di daerah Jawa Timur.

Kemudian beliau bertemu dengan Sunan Ampel yang masih terikat hubungan darah dengannya.

Sunan Ampel memberikan saran kepada Maulana Ishaq untuk menyebarkan ajaran Agama Islam ke daerah Blambangan, Banyuwangi. Saat itulah Maulana Ishaq berangkat menuju Blambangan.

Saat Syekh Maulana Ishaq sampai di Blambangan, ternyata masyarakat sekitar terjangkit wabah penyakit yang tak kunjung sembuh.

Hal yang sama juga dirasakan oleh putri Raja Blambangan yang tengah berkuasa di daerah Banyuwangi.

Kemudian raja membuat sayembara yang berisi bagi seorang pria yang dapat menyembuhkan putrinya akan dinikahkan dengannya. Namun bila peremuan, akan diangkat sebagai anak seorang Raja Blambangan.

Akhirnya raja memerintahkan pasukannya untuk mencari orang sakti yang dapat menyembuhkan wabah penyakit tersebut. Para pasukan raja bertemu dengan Resi Kandayana yang merupakan seorang pertapa sakti.

Kemudian Resi memberitahu para pasukan raja mengenai informasi tentang keahlian yang dimiliki Syekh Maulana Ishaq. Saat itulah Raja Blambangan bertemu dengan Syekh Maulana Ishaq.

Syekh Maulana Ishaq akan menyembuhkan wabah penyakit sang putri yaitu dewi Sekardadu, dengan syarat semua keluarga harus mau berpindah kepercayaan ke Agama Islam.

Dan setelah Syekh Maulana Ishaq mengobati wabah penyakit sang putri raja, akhirnya penyakitnya dapat disembuhkan. Alhasil beliau akan dinikahkan dengan sang putri dan semua keluarga raja berpindah kepercayaan ke Agama Islam.

Namun sang raja merasa berat hati untuk masuk Islam, dia merasa iri hati dengan keberhasilan Syekh Maulana Ishaq untuk membuat masyarakatnya memeluk Islam.

Akhirnya sang raja mengutus pasukannya untuk menghalangi dakwah Syekh Maulana Ishaq dan juga mengutus untuk membunuhnya.

Alhasil beliau tidak nyaman dan terganggu saat berada di Blambangan dan memilih kembali ke Pasai, Aceh.

Setelah kepergian beliau kembali ke Pasai, ternyata istrinya dewi Sekardadu sedang mengandung bayinya.

Dan setelah bayi tersebut lahir, raja Blambangan memerintahkan untuk membunu bayi tersebut dengan menghanyutkannya di selat Bali.

Setelah lama terkatung-katung di samudra luas, bayi tersebut ditemukan oleh kapal saudagar kaya dari Gresik yaitu Nyai Ageng Pinatih.

Nyai Ageng Pinatih adalah seorang saudagar wanita yang tidak mempunyai anak. Dan akhirnya bayi tersebut diangkat menjadi anaknya dan diberi nama Joko Samudro.

Biografi Sunan Giri

Silahkan simak biografi sunan Giri berikut ini :

Biografi
Keterangan
Nama AsliRaden Paku
Nama LainJoko Samudro, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden Ainul Yaqin
Nama IbuDewi Sekardadu
Nama AyahSyekh Maulana Ishaq
Tahun Lahir1443 Masehi
Tahun Wafat1506 Masehi
Tempat SyiarGiridento Gresik
Tempat MakamDesa Giri, Kecamatan Kebomas, Gresik

Silsilah Sunan Giri

Sunan Giri memilki silsilah dari garis keturunan ayahnya yang masih merupakan keturunan Nabi Muhammad.

Berikut silsilah sunan Giri yang masih keturunan Rasulullah generasi ke-16.

Silsilah-Sunan-Giri
Silsilah Sunan Giri

Dari garis keturunan diatas, jarak antara Rasulullah dengan sunan Giri adalah sekitar 16 generasi. Kalau dihitung dari tahunnya yaitu antara 671 Masehi – 1440 Masehi yang ada rentang sekitar 770 tahun.

Simak dan baca : Sunan Gunung Jati

Perjuangan Sunan Giri Menyebarkan Islam

1. Sunan Giri Berguru ke Ampel Denta

Saat Joko Samudro berumur 7 tahun, Nyai Ageng Pinatih menitipkan beliau di pesantren Sunan Ampel yang ada di Kota Surabaya.

Hal ini bertujuan agar beliau dapat melajar tentang ajaran Agama Islam. Selama bertahun-tahun, beliau belajar Agama Islam di Pesantren Sunan Ampel.

Bagi Sunan Ampel, Joko Samudro adalah murid yang cerdas. Bahkan beliau diberi gelar Maulana Ainul Yaqin oleh Sunan Ampel.

Suatu hari ketika sunan Ampel habis mengerjakan sholat Tahajud, ia melihat cahaya yang keluar sangat terang dari salah satu muridnya. Karena tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, maka diikatnya sarung muridnya tersebut.

Keesokan harinya, sunan Ampel bertanya kepada semua muridnya tentang siapa yang mempunayai ikatan kecil di sarungnya. Joko Samudro kemudian maju dan menunjukkan ikatan di sarungnya tersebut.

Dengan melihat ikatan sarungnya tersebut, maka sunan Ampel tahu kalau Joko Samudro adalah bukan anak sembarangan. Maka Joko Samudro diajak menemui ibu angkatnya di Gresik oleh sunan Ampel.

Sesampai di Gresik, sunan Ampel menanyakan siapa sebenarnya Joko Samudro kepada ibunya yaitu Nyai Ageng Pinateh.

Akhirnya ibunya menjelaskan semuanya mulai ditemukannya bayi yang terapung-apung di selat Bali dan ditemukan oleh kapal dagang miliknya yang sedang berlabuh di selat bali tersebut.

Dari cerita itu, sunan Ampel yakin kalau Joko Samudro adalah keponakannya sendiri. Dia adalah anak dari pamannya Syekh Maulana Ishaq yang dari Pasai.

Karena pamannya pernah berpesan kepadanya, “Jika nanti ada bayi laki-laki yang terapung-apung di selat Bali, dia adalah anakku, jika dia laki-laki maka berilah dia nama Raden Paku, biar menjadi Paku Islam di tanah Jawa.”

Akhirnya nama Joko Samudro diganti dengan Raden Paku, dan sejak itulah ia dipanggil Raden Paku.

2. Sunan Giri Belajar ke Pasai

Setelah selama 3 tahun belajar agama islam di Ampel, akhirnya beliau mendapat tugas dari gurunya untuk berguru ke Pasai.

Raden Paku dan anak Sunan Ampel yang bernama Raden Maulana Makdsum Ibrahim (yang kelak menjadi sunan Bonang), diutus untuk menimba ajaran Islam secara lebih dalam di Mekah.

Namun sebelum berangkat, Sunan Ampel mengutusnya untuk menemui ayahnya di Pasai Aceh. Hal ini karena Sunan Ampel ingin mempertemukan anak dengan ayah yang sudah lama terpisah.

Raden Paku dan Raden Maulana Makhdum Ibrahim belajar selama 3 tahun di Pasai. Setelah dianggap lulus, mereka akan melanjutkan keberangkatan mereka ke Mekah.

Namun Syekh Maulana Ishaq menyuruh mereka kembali ke Jawa karena kemampuan dan tenaga mereka sangat dibutuhkan untuk menyebarkan agama Islam di Jawa yang sedang berkembang.

3. Sunan Giri Mendirikan Pesantren

Pada waktu Raden Paku mau pulang ke Jawa, beliau diberi nama Maulana Ainul Yaqin oleh ayahnya. Kemudian Raden Paku diberi segenggam tanah oleh ayahnya untuk dibangun pesantren.

Kemudian ayahnya memberinya segenggam tanah yang nantinya Raden Paku disuruh menemukan jenis tanah yang sama di jawa sebagai tempat mendirikan pesantren.

Tanah tersebut harus sama dengan bau dan jenis yang diberikan oleh ayahnya. Raden Paku berjalan jauh untuk menemukan tanah tersebut.

Alhasil beliau menemukannya dan membangun pesantren di Desa Sidomukti dekat kota Gresik yang terletak di dataran tinggi. Itulah mengapa beliau diberi nama Giri dan kahirnya dikenal dengan sunan Giri.

Selama 3 bulan, pesantren Raden Paku sudah banyak dikenal masyarakat luas. Bahkan banyak anak-anak yang menimba ilmu disana. Hal ini sangat mempermudah beliau dalam menyebarkan Agama Islam.

Saat itu, Raden Paku memiliki pengaruh besar pada Kerajaan yanga di Pulau Jawa dan juga di luar Jawa. Bahkan beliau mendirikan Kerajaan yang bernama Giri Kedaton.

Simak dan Baca juga : Sunan Drajat

Metode Dakwah Sunan Giri

Raden Paku melakukan penyebaran ajaran Agama Islam di daerah Giri Kedathon. Beliau mendirikan sebuah pesantren sebagai tempat untuk menyebarkan ajaran Agama Islam.

Beliau juga menciptakan lagu anak-anak yang disematkan di dalamnya berupa unsur religius, hingga kini masih dikenal.

Lagu tersebut berjudul “Lir ilir” dan juga “Dolanan Bocah”. Dari situlah pendidikan Agama Islam mulai dikenal oleh masyarakat sekitar mulai dari anak anak hingga dewasa.

Raden Paku juga menciptakan permainan anak yang banyak dikenal oleh masyarakat Jawa Timur yang bernama Jelungan.

Dalam permainan tersebut dimaksud untuk mengajarkan seseorang dalam menyelamatkan hidup. Caranya adalah dengan berpegang teguh dengan ajaran Agama Islam.

Peran Sunan Giri Ketika Menyebarkan Islam

Raden Paku memiliki peran penting dalam menyebarkan ajaran Agama Islam. Berikut adalah penjelasan mengenai peran beliau.

1. Peran di Blambangan, Jawa Timur

Setelah Raden Paku pergi melaksanakan ibadah haji, beliau ditugaskan oleh Sunan Ampel untuk berdakwah di daerah Blambangan.

Ternyata beliau melakukan dakwah Agama Islam di tempat Prabu Minak Sembayu yang merupakan kakek kandungnya sendiri. Kakek beliau sangatlah senang bisa bertemu dengan cucunya lagi.

Bahkan dia tidak melarang Sunan Giri dalam melakukan dakwah. Dengan begitu Islam mulai berkembang di sana dan membuat Hindu Budha terdesak.

2. Peran di Kota Gresik, Jawa Timur

Sunan Ampel pernah mengutus Raden Paku untuk mengunjungi Nyai Ageng Pinatih selaku ibu angkat beliau.

Setelah sampai di Gresik, beliau membantu ibunya untuk berdagang. Di samping berdagang, beliau juga turut menyebarkan ajaran Islam.

Suatu ketika, Raden Paku menyulap karung yang berisi pasir dan batu menjadi emas, rotan, damar, dan barang mewah lainnya. Hal ini dilakukan karena beliau mengetahui bahwa ibu angkatnya tidak pernah bersedekah.

Sejak saat itu, Nyai Ageng Pinatih mulai senang bersedekah dan juga berzakat kepada masyarakat yang membutuhkan. Akhirnya ajaran Islam mulai bekembang pesat di Kota Gresik dan berlangsung hingga sekarang.

3. Peran Pada Peresmian Masjid Demak

Raden Paku memiliki peran dalam peresmian Masjid Demak bersama dengan Sunan Kalijaga. Saat kegiatan peresmian, akan dilangsungkan pertunjukan wayang beber.

Wayang beber merupakan salah satu jenis wayang yang memiliki rupa mirip dengan wajah manusia. Raden Paku sangat menentang adanya wayang tersebut.

Hal ini karena dalam hukum Agama Islam, dilarang menggunakan wayang yang memiliki wajah seperti manusia. Akhirnya pertunjukan wayang yang berlangsung menggunakan wayang kulit oleh sunan Kalijaga.

Bagi masyarakat sekitar yang ingin menikmati pertunjukan tersebut, harus mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tiket masuk. Alhasil lebih banyak lagi masyarakat yang memeluk Agama Islam.

Simak dan baca : Sunan Muria

Karomah Sunan Giri

Karomah-Sunan-Giri

Sebagai seorang wali Allah, Sunan Giri memiki banyak karomah yang sangat luar biasa. Simak beberapa karomah Sunan Giri berikut :

1. Mengubah Pasir Menjadi Barang Dagangan

Raden Paku sering membantu ibunya berdagang. Suatu ketia beliau ikut berlayar ke Kalimantan untuk berdagang bersama rombongannya.

Sesampai di Kalimantan, Raden Paku menjual barang dagannya tidak secara kontan, akan tetapi boleh dihutang atau dicicil oleh pembelinya. Bahkan sebagian dagangannya dinagikan ke fakir miskin.

Melihat hal ini Abu Hurairah selaku orang kepercayaan Nyai Ageng Pinatih memprotesnya. Karena bisa-bisa nanti pulang ke Jawa dengan tangan hampa.

Dan benar adanya setelah 10 hari dan sampai waktunya pulang ke Jawa, orang-orang yang berhutang membei barang dagangan belum pada membayarnya.

Dengan demikian kapal yang dipimpin oleh Abu Hurairah akan pulang ke Jawa tanpa membawa hasil apa-apa.

Selain itu kapal akan pulang tanpa muatan barang dagangan akan membahayakan proses pelayaran. Karena dengan tanpa muatan akan mudah terombang-ambing oleh angin di lautan nanti.

Adanya alasan inilah, maka Raden Paku memerintahkan untuk mengisi karung dengan pasir dan batu agar kapal memilki muatan.

Sesampainya di Gresik, Abu Hurairah menyampaikan kejadian selama di Kalimantan kepada Nyai Ageng Pinatih. Otomatis ibu Raden Paku tersebut marah besar kepadanya.

Namun Raden Paku tetap tenang dan meminta ibunya dan Abu Hurairah untuk mengecek ke kapal. Dan betapa terekjutnya Nyai Ageng Pinatih dan Abu Hurairah setelah mengecek kapal dan melihat apa yang ada di kapal.

Bawaan kapal yang sebelumnya di bawa dari Kalimantan adalah Batu dan pasir, telah berubah menjadi barang dagangan dari Kalimantan, seperti damar dan rotan.

Dengan kejadian ini Nyai Ageng Pinatih semakin sadar kalau anak angkatnya ini memilki karomah yang sangat luar biasa dan sejak itu ia semakin rajin belajar agama Islam.

2. Adu Kesaktian Dengan Begawan Minto Semeru

Kisah para wali yang diajak adu kesktian hampir terjadi kepada para anggota walisongo. Seperti sunan Kudus yang ditantang kesaktian oleh Ki Ageng Kedu atau sunan Bonang yang ditantang oleh Brahmana dari India.

Sunan Giri yang menyebarkan agama Islam juga mendapat perlawanan dari para tokoh Hindu yang sudah terkenal sebelumnya. Salah satu tokoh yang iri adalah Begawan Mintu Semeru.

Begawan Mintu Semeru yang memiliki padepokan di lereng gunung Lawu, disekitar Jogorogo, Ngawi.

Dia mempunyai kesaktian yang sangat tinggi, maka dengan adanya sunan Giri yang berdakwah membuat dia naik pitam dan menantang sunan Giri untuk adu kesaktian.

Dia datang ke Gresik untuk beradu kesaktian dengan sunan Giri, dan siapa yang akan menyerahkan dirinya kepada yang menang.

Dalam adu kesaktian itu terjadi 4 pertarungan diantaranya adalah :

  • Merubah angsa menjadi seekor naga
  • Tempayang melayang-layang di udara
  • Adu kesaktian jubah dan ikat kepala
  • Menumpuk ribuan telur

Dari semua adu kesaktian itu, semua bisa dimenangkan oleh sunan Giri, dan begawan Minto Semeru mengaku kalah.

Akhirnya begawan Minto Semeru menjadi santri di pesantren milik sunan Giri. Dan setelah beberapa bulan menjadi santri, akhirnya dia kembali ke padepokannya di gunung Lawu dan murid-muridnya diajak masuk islam.

Makam Sunan Giri

Makam-Sunan-Giri

Makam sunan Giri berada di di desa Giri, kecamatan Kebomas, Gresik.

Letak makam beliau berada berjarak sekitar 10 menit dari makam Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik). Makam tersebut berada di dtaran tinggi, otomatis jika akan me makam beliau harus menaiki banyak anak tangga.

Sebelum masuk ke makam sunan Giri, akan diawali dengan sambutan pintu gapura yang bentuknya seperti candi Bentar. Terdapat 2 patung kepala naga yang memilki simbol tanggal wafatnya beliau.

Pada pelantaran makam terdapat banyak makam yang ada disana. Makam-makam ini merupakan makam para Bupati atau pemimpin-peminpin Gresik tempo dulu.

Simak dan baca juga : Biografi Sunan Bonang

Itulah penjelasan mengenai sejarah Sunan Giri secara detail. Anda harus menerapkan amalan yang pernah dilakukan oleh beliau kepada keluarga dan juga diri Anda sendiri. Hal ini karena amalan beliau yang sangatlah mulia.

Loading...

Sejarah Khalifah Islam

Wahyoeni
3 min read

Sunan Muria

Wahyoeni
6 min read

Sunan Kalijaga

Wahyoeni
16 min read

Sunan Gunung Jati

Wahyoeni
6 min read

Sunan Gresik

Wahyoeni
6 min read

Sunan Kudus

Wahyoeni
6 min read