Sejarah Walisongo

Simak ulasan tentang √ anggota walisongo, √ karomah walisongo, √ Sejarah walisongo, √ biografi walisongo dan √ makam walisongo berikut.


Sejarah Walisongo

Kata Walisongo adalah kata majemuk dari kata “Wali” dan “Songo”.

Kata Wali berasal dari bahasa arab, singkatan dari kata “waliyullah” yang artinya orang yang mencintai Allah dan dicintai Allah. Dan kata Songo berasal dari bahasa jawa yang berarti sembilan.

Walisongo-Tokoh Islam Indonesia

Walisongo – Tokoh Islam Nusantara

Jadi Walisongo adalah kumpulan para wali yang berjumlah sembilan. Mereka adalah para wali yang mencintai Allah dan dicintai oleh Allah. Mereka dianggap sebagai ketua mubaligh islam pada waktu itu untuk berdakwah dan syiar mengenai islam.

Walisongo ini adalah para wali yang menyebarkan agama islam di Jawa pada saat itu namun meluas sampai seluruh wilayah Indonesia. Hal ini dikarenakan murid-murid para wali yang berguru ke pesantren mereka, berasal dari berbagai wilayah di seluruh Indonesia.

Para wali yang berasal dari Jawa atau keturunan Jawa, seringkali dikaitkan dengan legenda-legenda mistik. Sementara itu para wali yang asli Timur Tengah tidak banyak dikisahkan dalam legenda-legenda mistik.

Di dalam legenda ini pengertian karomah adalah memiliki kesaktian mandraguna. Namun dalam Islam karomah adalah taqwa kepada Allah dan mendapatkan kekuatan itu atas ijin-Nya.

Setiap orang memilki kelebihan masing-masing, namun dalam tingkatanya dapat dirangkum seperti berikut:

  • Mukjizat adalah kelebihan yang dimilki para Nabi.
  • Karomah adalah kelebihan yang dimiliki para Wali.
  • Maunah adalah kelebihan yang dimiliki orang-orang Mukmin.

Begitu hebatnya penghormatan rakyat kepada para wali dapat kita lihat dari beberapa legenda dalam bentuk cerita atau dongeng yang kadang-kadang tidak masuk akal karena penuh dengan misteri dan kesaktian.

Namun keberadaan Walisongo ini membuat kita paham akan susahnya dan jerih payah mereka dalam mengajarkan islam ke tanah Jawa dan menyebar ke seluruh Indonesia.

Simak dan baca : Penyebaran Agama Islam

Anggota Walisongo

Walisongo telah benar-benar membawa perubahan dan dampak yang besar terhadap masyarakat Jawa pada jaman dulu. Seperti yang kita tahu dari pelajaran di sekolah bahwa yang mayoritas orang jawa pada saat itu beragama Hindu dan Budha.

Anggota Walisongo ada 9 orang, yaitu :

  1. Sunan Gresik
  2. Sunan Ampel
  3. Sunan Bonang
  4. Sunan Giri
  5. Sunan Derajat
  6. Sunan Kalijaga
  7. Sunan Kudus
  8. Sunan Muria
  9. Sunan Gunung Jati

Masing-masing anggota Walisongo tersebut memilki andil atau peranan yang sangat penting dalam mengajarkan agama Islam. Berikut biografi Walisongo yang perlu Anda pahami.

1. Sunan Gresik

Sunan-Gresik-Walisongo
Ilustrasi Sunan Gresik – Anggota Walisongo

Anggota Walisongo yang pertama adalah sunan Gresik. Sunan Gresik merupakan sunan pertama kali yang menjadi gurunya para walisongo. Beliau adalah orang tertua dari anggota walisongo yang menyebarkan agama islam ke tanah Jawa.

Sebenarnya sudah ada orang Jawa kala itu yang sudah memeluk agama Islam. Karena pada saat itu islam sudah berkembang pesat di Arab, Gujarat atau Turki.

Jadi islam sudah dibawa masuk oleh para pedagang dari Arab, Gujarat atau Turki tersebut. Namun pemeluk islam hanya berada di sekitar pesisir Jawa saja. Penyebaran ini melalui jalur prnikahan atau pedagang yang menetap sementara di sekitar pesisir Jawa.

Sunan Gresik yang bernama asli Maulana Malik Ibrahim bukan asli orang Jawa atau orang Indonesia. Beliau berasal dari negara Champa (Negeri Cermin) datang ke Indonesia dan mendarat di Gresik.

Setelah mendarat di pelabuhan Gresik, beliau memang berniat menyebarkan agama islam dengan pendekatan melalui perdaganagn. Maka beliau mendirikan rumah di Laren dan sebuah toko di desa Romo yang menjual barang-barang bawaannya untuk menjalankan misi dakwahnya.

Beliau merangkul masyarakat saat itu dengan beramah-tamah, mengajari masyarakat saat itu dengan bercocok tanam yang baik dan sekaligus menjadi tabib. Upaya sunan Gresik akhirnya berhasil, masyarakat bersimpati kepadanya dan mulai mengikuti arahan-arahan dan ajaran-ajaran Islam.

2. Sunan Ampel

Sunan-Ampel-Walisongo
Ilustrasi Sunan Ampel – Anggota Walisongo

Anggota walisongo yang kedua adalah sunan Ampel. Seperti sunan Gresik, sunan Ampel juga bukan asli orang Jawa. Beliau berasal dari negeri Champa juga. Sunan Ampel dikenal dengan nama Raden Rahmat.

Sunan Ampel meninggalkan Champa untuk pergi ke pulau Jawa sekitar tahun 1443. Tujuan kedatangannya ke Jawa adalah untuk menemui bibinya Dwarawati. Putri Dwarawati adalah seorang putri raja Champa yang menikah dengan raja Majapahit yang bernama Prabu Kertawijaya.

Sesampainya di Jawa beliau meminta ijin raja Majapahit untuk berdakwah dan menyebarkan agama Islam. Raja Majapahit setuju, asal warganya dengan sukarela memeluk islam bukan paksaan. Walau raja sendiri tidak mau memeluk islam.

Sunan Ampel kemudian membangun pesantren di daerah Ampel Surabaya. Sunan Ampel sangat pintar dalam mengajarkan agama islam. Salah satu ajaran sunan Ampel yang sampai sekarang terkenal yaitu ajaran “Molimo” atau “Moh Limo”.

Kata “Moh” berasal dari bahasa Jawa yang artinya tidak, dan “Limo” artinya Lima. Jadi Moh Limo adalah “Tidak melakukan lima perbuatan yang dilarang oleh Allah”.

Isi dari ajaran Moh Limo adalah:

  1. Moh Mabuk (Tidak mabuk atau minum-minuman).
  2. Moh Main (Tidak main atau tidak berjudi).
  3. Moh Madon (Tidak main perempuan).
  4. Moh Madat (Tidak memakai obat-obatan).
  5. Moh Maling ( Tidak Mencuri).

Bahkan ajaran Moh Limo ini sampai sekarang masih menjadi ajaran yang dipegang umat muslim hingga saat ini. Dalam masyarakat sekarang dikenal dengan istilah 5M.

3. Sunan Bonang

Sunan-Bonang-Walisongo
Ilustrasi Sunan Bonang – Anggota Walisongo

Anggota Walisongo yang ketiga adalah sunan Bonang. Sunan Bonang adalah putra pertama dari sunan Ampel. Nama Bonang berasal dari Bong Ang dari marga Bong seperti nama ayahnya Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel.

Nama asli sunan Bonang adalah Raden Maulana Makhdum Ibrahim. Sejak kecil sunan Bonang belajar agama islam di pesantren ayahnya sendiri di Ampel Surabaya. Beliau pernah mendalami islam bersama saudara perguruannya yaitu raden Paku ke negeri Champa.

Setelah selesai menimba ilmu, akhirnya sunan Bonang kembali ke Jawa dan mendirikan pesantren di Tuban. Dalam menyebarkan agama sunan Bonang melakukan pemdekatan kepada masyarakat menggunakan musik.

Bahkan beliau menciptakan alat musik Jawa yaitu gamelan sebagai sarana menarik simpati masyarakat. Salah satu alat musik gamelan ciptaannya diberi nama Bonang.

Dalam menyebarkan agama islam, selain menyebarkannya dengan gamelan, beliau juga menggunakan cara dakwah dengan melalui tembang-tembang Jawa. Banyak sastra tembang yang beliau ciptakan sebagai pesan-pesan ajaran islam. Karya sastra sunan Bonang berupa suluk, carangan paweyangan dan tembang tamsil.

Salah satu tembang karya sunan Bonang yang terkenal sampai sekarang adalah suluk sunan Bonang yang berbentuk prosa Jawa yang dipengaruhi oleh bahasa Arab.

Hingga saat ini catatan itu masih tersimpan di Universitas Leiden, Belanda. Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 Masehi dan dimakamkan di kota Wali Tuban.

4. Sunan Giri

Sunan-Giri-Walisongo
Ilustrasi Sunan Giri- Anggota Walisongo

Anggota sunan yang keempat adalah sunan Giri. Sunan Giri adalah putra dari Maulana Ishaq dan Nyi Sekardadu (putri Blambangan). Dalam sejarah yang diceritakan, sunan Giri pada waktu bayi dihanyutkan di selat Bali atas perintah kakeknya Raja Blambangan.

Ketika dihanyutkan di selat Bali tersebut ia ditemukan oleh kapal saudagar milik seorang wanita dari Tuban bernama nyi Ageng Pinateh. Untuk itu karena ditemukan di laut sunan Giri kecil diberi nama Joko Samudro.

Setelah menginjak remaja, ia belajar ilmu agama islam di pondok pesantrennya sunan Ampel di Surabaya. Dikisahkan setiap hari Joko Samudro berjalan kaki dari Tuban ke Ampel.

Salah satu karomahnya sudah ia miliki sejak kecil. Beliau dapat melakukan perjalanan dengan sangat cepat dari Tuban ke Ampel Surabaya. Konon ceritanya beliau hanya beberapa menit melakukan perjalanan tersebut melalui bibir pantai di Tuban.

Setelah besar, beliau diberi nama Raden Paku oleh sunan Bonang atas titipan ayahnya yang ternyata paman dari sunan Ampel yang berasal dari Champa. Paku disini memiliki arti Paku atau tonggak agama islam di Jawa yang sangat kuat.

Dengan maksud bahwa raden Paku kelak menjadi pengajar dan penyebar agama islam yang sangat berpengaruh di tanah Jawa.

Beliau mendirikan pesantren di daerah Giri, Tuban. Beliau sangt berpengaruh dalam kasultanan Demak. Bahkan beliau sempat menjadi raja selama masa transisi sebelum akhirnya diserahkan kepada Raden Patah.

Sunan Giri wafat pada pertengahan abad 16 Masehi dan dimakamkan di Gresik Jawa Timur.

5. Sunan Derajat

Sunan-Derajat-Walisongo
Ilustrasi Sunan Derajat – Anggota Walisongo

Aggota sunan yang kelima adalah sunan Derajat. Sunan Derajat adalah putra dari sunan Ampel dan Dewi candrawati, beliau juga adik dari sunan Bonang.

Sunan Derajat yang dikenal dengan nama Raden Qasim belajar agama islam dari ayahnya di pondok pesantren yang ada di Ampel. Beliau terkenal dengan jiwa sosial yang tinggi dan tema-tema dakwahnya yang selalu berorientasi pada gotong-royong.

Beliau selalu menolong orang-orang yang yang membutuhkan, mengasihi anak yatim dan menyantuni fakir miskin.

Beliau wafat pada pertengahan abad 16 Masehi dan dimakamkan di Pacitan, Lamongan Jawa Timur.

6. Sunan Kalijaga

Sunan-Kalijaga-Walisongo
Ilustrasi Sunan Kalijaga – Anggota Walisongo

Anggota Walisongo yang keenam adalah sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga adalah putra dari Raden Sahur tumenggung Wilatikta (Bupati Tuban) dan dewi Nawarum. Sunan Kalijaga masih ada keturunan dari Ranggalawe, satria sakti dari kerajaan Majapahit.

Sunan Kalijaga dengan nama asli Raden Mas Syahid, dari kecil sudah belajar mengenai islam. Karena beliau dari golongan ningrat, beliau tidak merasakan kekurangan apapaun.

Namun beliau sangat sedih dengan keadaan rakyat di Tuban waktu itu, maka beliau meninggalkan rumah orang tuanya untuk menjadi perampok yang baik. Beliau merampok harta para orang kaya kemudian dibagikan kepada para fakir miskin.

Beliau dikenal dengan sebutan Lokajaya, perampok yang sangat ditakuti oleh para saudagar-saudagar kaya. Namun ketika beliau bertemu dengan sunan Bonang dan hendak merampoknya, beliau malah disadarkan dan mengikuti sunan Bonang untuk menjadi muridnya.

Oleh sunan Bonang, Raden mas Syahid disuruh bertapa di tepi sungai untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama termasuk perbuatan merampok orang. Walaupun merampok itu tujuannya mulia untuk membantu orang miskin, tetap saja langkah yang diambil itu salah.

Sekian lama berlalu sunan Bonang sampai lupa kalau menyuruh Raden Mas Syahid bertapa di tepi sungai. Ketika dihampiri, beliau sudah berjenggot bahkan sampai ada sarang burung dikepalanya. Kemudian beliau diajak suann Bonang untuk mendalami islam di pesantrennya.

Karena bertapa di tepi sungai itulah, beliau dikenal sebagai sunan Kalijaga, yang artinya sunan penjaga kali atau penjaga sungai.

Ketika berdakwah menyebarkan agam islam, wilayah beliau tidak terbatas. Beliau suka berkeliling dan memperhatikan masyarakat. Oleh sebab itu semua lapisan masyarakat sangat bersimpati kepadanya.

Sunan Kalijaga mengikuti jejak gurunya yaitu sunan Bonang yang berdakwah menggunakan berbagai media seni. Seperti seni pertunjukan wayang kulit, seni gamelan, seni suara, seni ukir, seni busana dan kesastraan.

Sunan Kalijaga wafat pada abad 15 Masehi dan dimakamkan di Kadilangu, Demak Jawa Tengah.

Simak ulasan lebih detail tentang biografi, sejarah, makam dan nama asli beliau pada artikel Sunan Klaijaga berikut.

7. Sunan Kudus

Sunan-Kudus-Walisongo
Ilustrasi Sunan Kudus – Anggota Walisongo

Anggota walisongo yang ketujuh adalah sunan Kudus. Sunan Kudus adalah putra dari Utsman Haji. Utsman Haji adalah orang yang menyebarkan agama islam di Jipang Panolan, Blora.

Sunan Kudus dengan nama asli Jafar Sodiq menyebarkan agama islam di daerah Kudus. beliau ahli dibidang ilmu fiqih, ushul fiqih, tauhid, hadist, dan logika.

Untuk kepentingan dakwah, beliau menciptakan cerita keagamaan yang berjudul gending maskumambang dan Mijil. Sunan Kudus wafat pada tahun 1550 Masehi dan dimakamkan di pemakaman masjid Menara Kudus.

8. Sunan Muria

Sunan-Muria-Walisongo
Ilustrasi Sunan Muria – Anggota Walisongo

Anggota walisongo yang kedelapan adalah sunan Muria. Beliau adalah putra dari sunan Klaijaga. Beliau berdakwah seperti ayahnya yaitu berkeliling ke daerah-daerah terpencil untuk menyebarkan agama islam.

Obyek dakwahnya adalah orang-orang dari kalangan rakyat biasa seperti pedagang, nelayan dan petani. Metode dan cara dakwahnya juga banyak melalui seni kasustraan Jawa.

Beliau juga menciptakan tembang Jawa yang berjudul Sinom dan Kinanti. Suann Muria wafat pada abad 16 Masehi dan dimakamkan di gunung Muria Kudus.

9. Sunan Gunung Jati

Sunan-Gunungjati-Walisongo
Ilustrasi Sunan Gunung Jati – Anggota Walisongo

Anggota walisongo yang kesembilan adalah sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati adalah cucu raja Pajajaran prabu Siliwangi. Namun demikian ada yang menceritakan kalau sunan Gunung Jati berasal dari Samudera Pasai.

Menurut Purwaka Caruban Nagari, sunan Gunung Jati dihormati oleh kerajaan Demak dan Pajang. Beliau mendapatkan gelar Raja Pandita.

Karena jasa beliau akhirnya islam dapat tersebar luas dan diterima oleh masyarakat Jawa Barat. Masyarakat Jawa Barat yang sebelumnya sangat kuat dalam memeluk agama nenek noyangnya yaitu agama Hindu.

Beliau mendirikan kasultanan Cirebon dab Banten. Disamping itu beliau juga mendirikan pesantren Gunung Jati yang berada di Cirebon.

Sunan Gunung Jati wafat pada tahun 1570 Masehi dan dimakamkan di desa Astana, Gunung Jati, Cirebon.

Simak dan baca juga : Peninggalan Kerajaan Islam Indonesia

Karomah Walisongo

Dalam menyebarkan agama islam di Jawa dan di Indonesia, anggota Walisongo sering mengalami perlawanan-perlawanan dengan kerajaan yang memerintah pada waktu itu.

Namun Walisongo dengan gigih melakukan perlawanan dengan karomah yang dimilikinya. Berikut beberapa legenda yang melibatkan karomah walisongo.

Legenda Walisongo Menyerang Majapahit

Ada berbagai legenda dan cerita berhubungan dengan peperangan antara anggota walisongo dengan pasukan majapahit.

Saat menyerang Majapahit, Sunan Gunung Jati mengibaskan surbannya, dari sana kemudian jutaan tikus keluar untuk meyerang pasukan Majapahit hingga berantakan.

Selanjutnya, ketika keris Sunan Giri dihunus dari sarungnya, maka keluarlah ribuan lebah yang menyengat pasukan Majapahit. Kondisi ini membuat pasukan majapahit lari tunggang langgang diserang oleh pasukan lebah.

Ketika peti mukjizat dari Palembang dibuka, terdengar suara ledakan seperti seribu petir sehingga langit menjadi suram, rumah-rumah roboh, dan bumi berguncang. Dari peti juga keluar jutaan mahkluk halus yang menimpakan malapetaka kepada pasukan Majapahit.

Sementara itu, peci Sunan Bonang dapat mengeluarkan jutaan senjata yang mengamuk menghantam pasukan majapahit. Semua kisah legenda yang sangat luar biasa ini ditulis dalam kitab Walisongo dengan langgam Durma.

Legenda Sunan Giri

Sejak kecil Sunan Giri sudah menunjukkan karomah dalam dirinya. Pada waktu bayi ia dibuang dengan dihanyutkan di selat Bali atas perintah kakeknya.

Namun ia selamat dan ditemukan oleh saudagar yang sedang berlayar di selat Bali yang pemilik kapalnya adalah seorang wanita kaya raya dari Gresik. Untuk itu masa kecilnya Sunan Giri bernama Joko Samudro.

Joko artinya anak laki-laki dan Samudro artinya lautan luas. Maka Joko Samudro artinya anak laki-laki yang ditemukan di samudra (selat Bali).

Setelah besar ia belajar agama islam di pesantren milik Sunan Ampel di Surabaya. Sunan Giri memiliki karomah yang diberikan Allah yaitu salah satunya dapat menyabda beras menjadi selendang tenun Bali, pasir menjadi beras, dan kerikil menjadi Mutiara permata.

Kalam yang sedang dipakai untuk menulis, dilemparkan kearah tantara Majapahit yang datang menyerang dapat berubah menjadi keris Kalamunyeng dan menghancurkan musuh tersebut.

Saat makam Sunan Giri hendak dibongkar dan dirusak oleh tantara Majapahit, ternyata jutaan lebah keluar untuk menyerang pasukan sehingga mereka lari kalang kabut.

Legenda Sunan Bonang

Sunan Bonang yang masa mudanya berguru kepada ayahnya yaitu sunan Ampel, memiliki pengetahuan ilmu agama islam yang tinggi.

Masa belajar di pesantren milik Ayahnya, ia berteman dengan Sunan Giri, karena memang satu pondok pesantren.

Salah satu karomah Sunan Bonang yaitu dapat mengubah buah aren menjadi emas. Karomah tersebut telah membuat Brandal Lokajaya bertobat kepada beliau ketika hendak merampoknya dan akhirnya berguru kepada sunan Bonang.

Legenda Sunan Kudus

Sunan Kudus ketika menyerang Terung dengan tujuh prajuritnya oleh Adipati Pecattondo dilihat seperti membawa ribuan prajurit hingga sang adipati menyerah tanpa kekerasan senjata.

Legenda Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga adalah putra dari adipati Tuban yang sangat kaya raya. Sunan Kalijaga muda bernama Raden Mas Syahid. Ia tidak menyukai tindakan kesewenang-wenangan dari kerajaan terhadap rakyat jelata.

Pada masa mudanya sebelum bertemu dengan sunan Bonang, ia menjadi perampok yang mengambil harta para saudagar-saudagar kaya yang kemudian hasil rampasannya itu dibagikan kepada rakyat miskin.

Sunan Kalijaga adalah Sunan yang memiliki banyak cerita legenda diantara sunan-sunan lainnya. Karena memang Sunan Kalijaga adalah Sunan yang paling merakyat ketika menyebarkan agama islam ke masyarakat Jawa.

Sunan Kalijaga adalah murid dari Sunan Bonang bersama dengan Syeh Siti Jenar. Dalam syiar agama islam Sunan Kalijaga melakukan pendekatan-pendekatan yang masih menggunakan unsur-unsur budaya Hindu atau Budha saat itu.

Dengan demikian ajaran islam mudah diterima oleh masyarakat yang masih memeluk agama Hindu atau Budha saat itu.

Karomah Sunan Kalijaga diantaranya:

  • Dapat menghidupkan kembali ayam tukung yaitu ayam panggang yang telah hilang brutunya.
  • Dapat menghidupkan ikan gurameh yang tinggal tulangnya saja, karena dagingnya sudah dimakan.
  • Dapat bertemu dan berguru pada Nabi Khidir di Lulmat Agaib, yang menjelma menjadi bocah bajang (anak kecil) dan memberi wejangan tentang nafsu lawwamah, ammarah, sufiah, dan muthmainnah.
  • Dapat mengubah sebongkah tanah menjadi emas di hadapan Adipati Pandanaran untuk menunjukkan bahwa mencari harta benda itu sebenarnya perkara gampang, tetapi seringkali harta benda justru menjadi penghalang untuk mencapai cita-cita kembali kepada Allah Swt.
  • Memiliki baju takwa bernama Kiai Antakusuma sebagai hadiah peninggalan dari Rasulullah Saw. Baju itu dapat berubah-ubah warnanya menurut kesukaan yang memandang.
  • Bisa mengubah biji besi sebesar biji asam menjadi sebesar gunung. Ketika Sunan Kalijaga membawa besi bahan untuk dijadikan keris kepada Empu Supo, karena dipaido (dilecehkan) tidak cukup karena besinya hanya sebesar klungsu (biji asam), lalu disabda menjadi sebesar gunung sehingga merepotkan Empu Supo sendiri. Oleh karena itu, besi itu lalu diubah menjadi ukuran semula dan Empu Supo pun dapat mengerjakannya menjadi keris yang ampuh.

Legenda Pembangunan Masjid Demak

Masjid Agung Demak

Pembangunan Masjid Agung Demak hanya dilakukan dalam satu malam. Saking keramatnya, pembangunan Masjid Demak juga dibantu beberapa binatang seperti katak hijau dan kadal. Tetapi ada juga binatang yang mengganggu yaitu orong-orong.

Sedangkan untuk menentukan arah kiblat, Sunan Kalijaga menghubungkan kubah Masjid Demak dengan kubah Masjidil Haram.

Di samping itu, legenda mengatakan bahwa Sunan Kalijaga dapat membuat tiang Masjid Demak dari potongan kayu kecil-kecil (tatal) yang menjadi salah satu soko guru (tiang) utama masjid. Kualitasnya tiang dari tatal ini tidak berbeda dengan tiang buatan wali lainnya yang terbuat dari kayu jati glondongan yang besar.

Legenda Lembu Peteng Hendak Membunuh Sunan Ampel

Lembu Peteng adalah tokoh dunia persilatan dari Madura yang sakti mandraguna. dalam legenda ini Lembu Peteng ingin membunuh sunan Ampel.

Dalam legenda dikisahkan ketika lembu Peteng hendak membunuh Sunan Ampel dari belakang. Namun sebelum ia melaksanakan niatnya, tiba-tiba sekujur tubuhnya gemetar dan kehilangan segala kekuatannya.

Kekuatan Lembu Peteng seolah-olah hilang dan tidak bergeming untuk melanjutkannya. Lembu Peteng baru pulih kembali setelah Sunan Ampel mengampuni kesalahannya. Dan akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk membunuh Sunan Ampel.

Legenda Syeh Siti Jenar

Syeh Siti Jenar adalah salah satu wali yang memiliki ilmu agama islam yang sangat tinggi. Ia sangat disegani dan memiliki ilmu kesaktian yang luar biasa.

Namun karena berbeda pandangan tentang ajaran agama islam yang diajarkannya, maka beliau akhirnya dijatuhi hukuman pancung. Hal ini dilakukan agar ajaran islam tidak menyimpang dari ajaran islam yang asli dari Rasulullah.

Karomah syeh Siti jenar yaitu ketika lehernya dipancung, darah yang keluar dari tubuhnya berwarna putih dan berbau harum, memancarkan sinar dan tercipta huruf Arab kaligrafi yang berbunyi “la illaha illallah”.

Legenda mengatakan bahwa Syeh Siti Jenar dapat mengubah dirinya menjadi dhandhang seta (burung gagak putih) dan menjadi cacing.

Ketika makam Syeh Siti Jenar dibongkar, jenazahnya telah berbuah menjadi dua kuntum bunga melati yang harum, yang wanginya tercium sampai kejauhan.

Simak dan baca : Tokoh Islam

Demikian ulasan tentang sejarah Walisongo dan urutan Walisongo yang terkenal sampai sekarang, dan menjadi kurikulum pelajaran agama islam dan sejarah Indonesia. Walisongo adalah ulama-ulama Indonesia yang sangat berjasa dalam menyebarkan dan berkembangnya agama islam di Indonesia.

Loading...

Sunan Giri

Wahyoeni
7 min read

Sunan Bonang

Wahyoeni
8 min read

Tokoh Islam Dunia

Wahyoeni
3 min read

Kisah Rasulullah

Wahyoeni
4 min read

Sunan Kalijaga

Wahyoeni
16 min read

Hafizh Paling Menginspirasi

Wahyoeni
5 min read