Kisah Islami

Selagi manusia belum punah, akan selalu ada kisah yang dapat diceritakan kembali untuk diambil hikmah dan nilai – nilainya. Nasihat yang tersirat dalam setiap kisah, dapat dijadikan pegangan hidup, sekaligus memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih baik.

Allah selalu memiliki cara sendiri, untuk menuntun hamba-Nya kembali pada jalan-Nya, pun dalam menunjukkan kekuasaan-Nya. Karena segala yang terjadi di dunia ini, nyata maupun ghaib, di bumi dan di langit maupun di antaranya, adalah bukti akan kehadiran-Nya. Dari sekian banyak kisah, Anda dapat mengetahui beberapa dari kisah islami tersebut, dari pemaparan berikut ini.

Kisah islami nyata

Kisah islami nyata ini, sebagaimana yang pernah diberitakan oleh Tribun Pontianak, datang dari seorang mualaf, bergelar Profesor Matematika, yang dulunya adalah seorang atheis. Sebelumnya ia tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan terkait keberadaan surga, atau hal semacamnya.

Sering ia bermimpi, seolah – olah sedang menghadap Tuhan, berdiri, membungkuk, lalu berdiri lagi, kemudian menempelkan dahi ke lantai. Tidak hanya dia yang ada di ruangan itu, namun juga ada beberapa laki – laki yang membentuk barisan, melakukan hal yang sama dengannya, dan seseorang yang paling depan, terlihat memimpin gerakan itu.

Singkat cerita, ketika ia menjadi dosen di University of San Fransisco, salah satu mahasiswanya adalah seorang muslim. Mahasiswa muslim itu memberinya sebuah al-Quran terjemahan. Semenjak itu, ia merasa mendapat pencerahan. Ditambah lagi, ketika melihat pemandangan beberapa mahasiswa muslimnya yang shalat di basement, sesuai dengan mimpinya beberapa tahun yang lalu.

Akhirnya, profersor matematika itu, memutuskan untuk mengucap dua kalimat syahadat, dan menjadi seorang Muslim.

kisah islami

Kisah islami penuh hikmah

Cerita ini datang dari sebuah keluarga, yang sudah cukup ramai dengan hadirnya tiga orang anak. Sewaktu anak sulung masih duduk di bangku SMP, ia pernah bertengkar dengan Ayah, lantaran perbedaan pendapat mengenai kehadiran anggota keluarga baru.

Dua karakter keras kepala ini, kala itu, sama – sama memegang teguh pendirian. Si Anak Sulung sama sekali tidak ingin lagi, hadir seorang anggota keluarga baru. Sementara Sang Ayah, masih dengan penjelasan keuntungan hadirnya anggota baru ini. Namun pada akhirnya, argumen Anak Sulung ini menang. Umur Ibu, yang menjadi alasan argumen Anak Sulung ini.

Waktu terus berjalan, hingga sampai pada masanya Anak Sulung untuk melanjutkan pendidikan di bangku kuliah, di Surabaya. Menjelang ujian akhir semester satu, hal yang dirahasiakan keluarganya pun akhirnya terkuak. Usia kandungan Sang Ibu, sudah menginjak empat bulan. Sekeras apapun berusaha, janin ini tidak dapat digugurkan.

Entah jenis setan apa yang merasuki, Anak Sulung ini benci sebenci – bencinya. Ketika adik baru ini lahir, Anak Sulung justru merasa bodoh karena telah bersikap tidak adil terhadap bayi yang tak berdosa. Hingga akhirnya, pada suatu malam, ia layangkan doa seraya menangis, ia meminta pada Allah untuk menghilangkan rasa benci di hatinya, jika adik baru itu baik untuknya.

Singkat cerita, Allah mengabulkan doanya. Meruntuhkan rasa benci, dengan memberi sakit jantung pada adik kecilnya. Berbagai usaha telah dilakukan, demi kesembuhan Si Adik. Dua tahun kemudian, hasil rontgen dokter menunjukkan, bahwa Si Adik telah sembuh.

Kisah islami penuh hikmah ini, mengingatkan bahwa apapun yang terjadi, adalah agar manusia belajar sesuatu.

Kisah islami menyentuh hati

Kisah islami menyentuh hati kali ini, datang dari cerita yang dituturkan kembali, oleh salah seorang dosen hukum di salah satu universitas terkemuka di Indonesia. Selain berprofesi sebagai seorang dosen, beliau juga seorang notaris. Dari sekian banyak klien, salah satunya ada seorang waria. Beliau cukup dekat, dan mengetahui kehidupan waria ini.
Sudah barang tentu, dosen hukum tersebut mengetahui agama yang dianut Si Waria, seorang muslim. Suatu hari, Si

Waria datang kepada dosen hukum itu untuk mengurus suatu hal. Kali ini, di balik senyum merah merona dan rambut panjang semampai itu, diam – diam ia tidak dapat menepis kenyataan yang mengganggunya. Terlebih lagi ketika musim haji tiba.

Si Waria ini sadar, sudah lama ia mengklang dari kewajiban shalat lima waktu dan puasa wajib di bulan Ramadhan. Namun, ia merasa terlanjur, masuk ke dalam kehidupan yang sekarang dijalani. Apalagi sama sekali tidak ada kepedulian dari orang tuanya. Kadang ia lebih tidak peduli lagi.

Sambil menangis, Si Waria ini ungkapkan kegelisahannya. Tentang bagaimana nanti dia mempertanggung jawabkan perbuatannya pada Allah. Dia masih berhadapan dengan jalan buntu. Di sisi lain, ketika musim haji tiba, dengan materi berkecukupan sekarang, ia ingin menunaikan salah satu rukun islam itu. Tapi, ia bingung, harus dengan pakaian apa ia menghadap, dan menginjakkan kakinya di rumah Allah.

Hingga akhirnya, Si Waria ini berpesan kepada dosen hukum, bahwa ketika nanti ajalnya tiba, ia ingin diperlakukan sebagaimana pertama kali ia dilahirkan.

Kisah islami sahabat nabi

Salah satu kisah islami sahabat nabi, adalah kisah Abu Bakar. Abu bakar, adalah sahabat Rasulullah Saw. yang pertama kali memeluk agama Islam. Ia ada sosok yang senang bertafakur, dan berkorban paling banyak di jalan Allah. Maka dari itu, Allah memberinya hadiah berupa kepekaan jiwa. Hadiah tersebut membuat beliau, memahami al-Quran lebih dalam daripada sahabat yang mengerti dan mendalami tafsir.

Ketika ayat tentang sempurnanya agama turun, sahabat – sahabat yang lain merasa senang dan gembira, kecuali Abu Bakar. Abu Bakar justru menangis, karena memahami satu hal. Dengan turunnya ayat yang menerangkan sempurnanya al-Quran, maka akan rampunglah misi kenabian Rasulullah Saw. di bumi. Dengan kata lain, Rasulullah Saw. akan segera pulang ke rahmatullah.

Setelah mengetahui sebab Abu Bakar menangis, barulah sahabat – sahabat yang lain turut menangis.

Kisah islami tentang kejujuran

Kisah islami tentang kejujuran ini, selanjutnya datang dari sahabat Kaab bin Malik dan dua sahabat lainnya. Kaab bin Malik absen dari Perang Tabuk karena keterlambatannya menyiapkan perbekalan untuk berangkat perang. Ia merasa gelisah, karena orang – orang yang mangkir dari perang, termasuk ke dalam orang munafik dan mendapatkan dosa besar. Terlebih lagi jika alasan mangkir itu tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Sempat ada maksud hati untuk berbohong, namun Kaab urungkan, dan memutuskan untuk mengatakan yang sejujurnya, perihal tidak hadirnya ia dalam Perang Tabuk. Rasulullah Saw. menerimanya, dan Kaab pun menerima konsekuensi atas perbuatannya.

Pada hari ke-50 hukumannya, Kaab mengadukan masalahnya kepada Allah usai shalat sebelum fajar. Kemudian Rasulullah Saw. memanggilnya, dan memberi tahu bahwa Allah telah mengampuni dosa Kaab dan dua orang sahabat yang lainnya. Ampunan Allah untuk Kaab dan dua sahabat lainnya, ada dalam Surat at-Taubah ayat 117 sampai 119.

Baca juga : Kisah Nyata Islami

Kejujuran mereka bertiga berbuah manis, walau harus menerima konsekuensi. Karena alasan mereka absen dari Perang Tabuk, bukanlah untuk sengaja berpaling dari kewajiban.

1 thought on “Kisah Islami

Leave a Comment